Deklarasi itu juga bisa dimaknai bahwa Muhaimin dan PKB sengaja melakukan hal itu untuk membentuk posisi tawar (bargaining power) yang kuat untuk "memaksa" Jokowi memilih Muhaimin sebagai cawapres dia.
PKB melawan logika dengan bukan mengdeklarasi dukungan mereka terhadap pen-capres-an Jokowi terlebih dahulu, tetapi malah mengdeklarasi Muhaimin lebih dulu sebagai cawapres Jokowi, dengan "ancaman" tersirat jika Jokowi tidak memilih Muhaimin Iskandar, maka deklarasi itu dibatalkan, demikian juga dengan dukungan PKB terhadap Jokowi. Mereka akan mengalihkan dukungannya kepada Prabowo, padahal sebelumnya disebutkan bahwa dukungan terhadap Jokowi-Muhaimin itu harga mati bagi PKB.
Ternyata, "harga mati"itu bisa diubah-ubah sesuai kehendak. Begitulah ciri politikus oportunisme, yang hanya ingin bisa memenangkan pemilu saat ini supaya bisa menikmati dan memanfaatkan kekuasaan sekarang juga.
Seorang teolog Amerika Serikat, James Freeman Clarke (1810-1888) pernah mengatakan:
“Perbedaan antara seorang politisi dan negarawan adalah politisi hanya memikirkan tentang pemilihan umum, sementara negarawan memikirkan generasi akan datang.”

*****
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI