Mohon tunggu...
Dr. Damos Agusman
Dr. Damos Agusman Mohon Tunggu... Dosen - Rechtswissenschaften Universität Frankfurt

Dr. iur. International Law, University of Frankfurt. Bermimpi untuk mengurai benang kusut akibat distorsi publik.

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Anak Medan: Ahok, Okelah Lae...

11 Maret 2016   23:22 Diperbarui: 12 Maret 2016   07:55 3069
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Sumber Gambar: TemanAhok.com"][/caption]‘Oke lah lae” ... ungkapan ala Medan ini terucap dari mulut saya saat menonton manuver Ahok yang ‘nekat’ memilih jalur independen dalam Pilgub DKI ini. “Oke lah lae” (oke lah ipar) adalah ekspresi decakan guman kekaguman kepada seorang yang sedang berakbroat di seutas tali dengan  ketinggian yang mematikan.  Ungkapan ini juga sering dicuapkan oleh preman Medan kepada lawannya yang sesama preman. Biasanya dilontarkan spontan manakala melihat lawannya jauh lebih jagoan. Seorang preman Medan yang sedang ngebut dijalan raya, misalnya, dengan serta mengucapkan kalimat decakan ini manakala melihat ada preman yang lain yang melaju lebih cepat tanpa mampu dikejar. Ini berarti dia mengakui keunggulan lawan tanpa harus mencercanya. Ingat preman Medan itu hakikatnya sportif, gentle, dan jantan.

Banyak spekulasi tentang keputusan Ahok ini. Mulai dari yang sinis menganggap ini kebodohan total, sampai sindiran bahwa ini hanya pencitraan. “Masak iya sih Ahok menyia-nyiakan tiket usungan Parpol yang sudah siap?”, demikian celetukan bebarapa kalangan. Beberapa pihak bahkan kuatir bahwa Ahok sedang dijerumuskan oleh anak-anak muda yang yang hanya bermodal nekat, kerumunan fans club, dan pastilah ‘tidak bertanggungjawab’.

Manuver Ahok ini menarik diteropong dan mungkin lebih gampang dipahami dari perspektif ‘Anak Medan”. Pilihan dan sikap Ahok ini nyaris sempurna menggambarkan karakter yang tidak asing bagi “Anak Medan” yang terkenal dengan nyalinya. Tapi tunggu dulu. Menyebut ‘Anak Medan’ bukan sedang berdongeng soal ras/suku.  Medan itu multi-ras, ‘marragam-ragam’ suku. ‘Anak Medan’ adalah representasi komunitas mini Indonesia. Ponirin, Nagabonar, si Polan, Bang Ucok, Haji Dahlan, Tengku,  Ujang, Venu Gopal bahkan si Acong adalah bagian dari komunitas ini. Keliru berat kalau melabelkan anak Medan ke suatu suku tertentu, misalnya, Batak. Gubenurnya saja bernama Gatot, dan pemain PSMS yang legendaris itu justru si Keling bernama Tumsila. Bataknya paling si Parlin Siagian.

Apa sih karakter ‘anak Medan’ itu? Gampang mengenalinya. Tengok saja (artinya ‘lihat saja’) lirik lagu “Anak Medan” yang ditersohorkan oleh Trio Lamtama itu.  Cak simak lirik demi lirik lagu ini.

Anak medan, anak medan, anak medan do au kawan.
Susah didonganku so boi tarbereng au (Saya tidak bisa melihat teman saya susah)
Titik darah penghabisan ai rela do au kawan.
Hansur demi kawan, ido au (“itulah saya”) kawan.

Keputusan Ahok yang tiba-tiba memilih “Teman Ahok” menggambarkan sikap ini. Memang pilihan ini susah dipahami oleh logika publik apalagi logika politik namun sangat mudah dipahami oleh ‘anak Medan’. Pertemanan itu memang pada hakekatnya sakral dan tidak jarang seseorang berkorban demi temannya. Ahok ingin berjuang untuk ‘berhasil’ atau ‘hancur’ bersama-sama dengan Teman Ahok. Tidak tanggung-tanggung, perjuangan ini sampai “titik darah penghabisan’ kata Trio Lamtama. Percayalah...., solidaritas pertemanan yang unik ini memang benar-benar ada. Ini bukan basa basi, ‘anak Medan’ memang begini cirinya. Sikap Ahok ini tidak asing, tidak bodoh,  tapi sangat Medan kali.

Dan uniknya, pertemanan ala Medan ini justru membangkitkan ardenalin berupa semangat juang pantang mundur. Jangan pernah lupa, kemenangan PSMS, kebanyakan adalah karena soal semangat dan ardenalin ini. Maka tidak heran, pasca putusan Ahok ini membuat semangat kerja ‘Teman Ahok’ semakin menggila. Dan konyolnya, “Teman Ahok” ini tiba-tiba muncul dari mana-mana, tanpa komando, tanpa pengarahan tiba-tiba ‘recok’ di Sosmed.

Anak Medan pasti bakal muntah jika dalam suasana kebatinan seperti ini tiba-tiba ada yang nyeletuk soal ‘uang mahar’, ‘biaya operasional’ atau ‘uang makan’. Tidak ada itu sebab mereka sedang terasuki oleh spirit “hansur demi kawan’-nya Tiro Lamtama. Mesin pergerakan mereka tidak berbahan bakar ‘uang’ tapi digerakkan oleh solidaritas setia kawan.

Apakah Ahok atau ‘Teman Ahok’ ini akan saling sikut menyikut dalam relasi perkawanan ini? Tidak mungkin, kata lirik lagu ini: 

"Nang pe 51, solot di gontinghi (Walaupun 51(pisau) masuk di PinggangKu)

Siap bela kawan berpartisipasi"

Lirik ini justru menggambarkan saling mengorbankan diri untuk teman ketimbang mengorbankan teman. Sekalipun terluka karena perjuangan ini, dia akan berpartisipasi. Selain itu, pertemanan semacam ini menurut Trio Lamtama berasaskan harga diri sehingga mencuri pun tidak bakal mau. Simak saja lirik ini:

"378 (Pasal KUHP: mencuri) Sattabi majo disi (maaf kalau untuk itu),

Ada harga diri, mengantisipasi"

Sebagai orang Belitung yang sarat dengan gaya Melayu, ternyata lirik lagu ini sedikit banyak bercerita tentang Ahok sebagai perantau. Bertolak dari pantut Melayu, lirik ini bercerita:

"Horas, pohon pinang tumbuh sendiri.

Horas, tumbuhlah menantang awan.

Horas, biar kambing di kampung sendiri.

Horas, tapi banteng di perantauan."

Di Belitung mungkin Ahok belum apa-apa namun di perantauan Jakarta tiba-tiba berubah menjadi Banteng, kata Trio Lamtama lagi.

Ulasan diatas mungkin terlalu lebay dan menggembar-gemborkan kelebihan ‘Medan-Ahok-Teman Ahok’. Baik saya akan bongkar kelemahan “Anak Medan’. Masih ingat cerita film “Naga Bonar”? versi pertama ya bukan yang kedua. Film ini juga memotret ke-khas-an komunitas Medan berikut dengan kelemahannya. Pertama, betapa garang dan kesatrianya Bang Naga Bonar. Tapi dibalik keperkasaannya itu ternyata bang Naga takut sama Emaknya. Sulit sekali diterima akal bagaimana mungkin si Pemberani ini pada saat bersamaan menjadi penakut dan takutnya sama si Emak yang menyimbolkan ketidakberdayaan. Anak Mamak adalah julukan yang menakutkan bagi Anak Medan. Kedua, bang Naga itu sangat ‘kampungan’ jauh dari kesan modernitas.  Tutur katanya jauh dari kesan intelektual, bandingkan dengan bang Pohan.

Tapi tunggu dulu. Ahok juga ‘penakut’. Konon dia takut sama Tuhan-nya dan tentu saja Ahok harus takut sama konstituen-nya. Tapi Ahok bersikeras sekalipun takut sama konstituen-nya dia hanya tunduk pada Konstitusi bukan Konstituen. Oke lah lae.  Omongan Ahok juga ‘kampungan’ tapi tahukah anda bahwa dibalik ‘kampungan’-nya bang Naga Bonar tersebunyi ‘ketulusannya”? 

Kembali ke soal heboh pilihan Ahok ke jalur perorangan. Gampang ditebak bahwa lawan politik Ahok akan menyerang habis-habisan kubu Ahok dan ‘Teman Ahok’ sampai titik darah penghabisan. Tembakan membabibuta mulai dimuntahkan, mulai dari issue ‘deparpolisasi’, ‘Ahok mendikte Partai’, sampai ke usaha mendiskreditkan ‘Teman Ahok’. Tapi bagi lawan politik Ahok yang berdarah Medan, mungkin akan mengambil sikap berhati-hati (slow kata orang Medan). Mereka sadar betul bahwa gelombang ‘hansur demi kawan’ model ‘Teman Ahok’ ini akan menjadi Tsunami jika semakin dimusuhi. Setiap lemparan lembing ke arah ‘Teman Ahok’ justru gampang berubah menjadi bumerang.

 Jika ditanya, apakah kira-kira saran preman Medan kepada lawan politik Ahok guna menyikapi manuver Ahok ini?  Singkat saja, katakan “oke lah lae’ sambil mulai mengintrospeksi diri tentang apa yang salah dengan kita.    

____                                                                    

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun