Siapa lagi yang aku curhati, kalau tidak Mbakku. Ibu yang tahu aku merasakan sakit hanya bisa menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Mbak...gimana ini? Apa aku diruqiah ya ? Tanyaku.
"Sebentar, coba di pak Mantri yang di desa sebelah ya. Itu lengganan nya temannya mbak. Kalau dia kumat sakit lambungnya dia langsung diberi obat, langsung bisa tidur lelap. Dan keesokkan harimya sehat. Beliau itu pensiunan tapi dia juga terapis. Barangkali cocok" saran mbakku.
"Ndak ruqiah dulu aja mbak.."pintaku
"Coba ini dulu, barangkali cocok" tegas mbakku.
===============
Sekitar pukul 16.30 WIB, kami beranjak pergi ke klinik praktek pak Mantri. Kami janjian dengan Mbak Setya, teman Mbak yang biasa berobat.Â
"Mbak, nunggu dimana ini?"tanya mbakku.
"Ditunggu aja di masjid ungu ya. Nanti aku ke situ" Jawab mbak Setya di ujung telpon.
Tak berapa lama mbak Setya datang, beliau langsung mengajakku masuk. Bertemulah kami dengan Pak Mantri.
"Pak, ini lho adikku sakit.." ucap mbak Setya yang humoris.