Ternyata orang yang memanggilku adalah Eliza. Teman sebangkuku.
"Win, lagi mungutin sampah lagi? Aku bantu pungutin juga ya," ujar Eliza seraya ikut membantu memunguti sampah-sampah yang berserak dan memasukannya ke dalam tong sampah. Sebelumnya, ia memendekan sling bag yang dibawa agar tidak kotor menyentuh tanah.
"Liz, kok halaman sekolahnya kotor banget begini ya? Biasanya tidak separah ini," ucapku sambil terus memunguti sampah-sampah plastik.
"Biasa itu. Sore setelah pulang sekolah kan banyak siswa yang jajan sambil nunggu dijemput pulang, biasanya sampahnya mereka buang begitu saja. Apalagi sore-sore begitu jarang ada guru yang mengawasi," jelas Eliza.
Aku mengangguk-angguk.
"Nah, biasanya jam segini sampahnya sudah disapu oleh Pak Umar, tapi enggak tahu kenapa kok sedari tadi Pak Umar tidak kelihatan ya," lanjut Eliza.
Ooo.. pantas setiap kali aku sampai sekolah, halamannya sudah bersih. Aku biasanya datang ke sekolah sekitar pukul 07.00. Pulang pun selalu tepat waktu. Sebab, sebelum bel berbunyi, ayah biasanya sudah stand by di depan gerbang sekolah untuk menjemput. Jadi tidak tahu kalau sehabis bel pulang banyak siswa yang hobi jajan dan membuang sampah sembarangan.
Lebih dari 15 menit aku dan Eliza memunguti sampah-sampah tersebut. Beberapa siswa yang datang, ada yang ikut membantu memunguti sampah-sampah tersebut. Namun, ada juga yang malah mengucapkan kata-kata sinis. Termasuk beberapa teman sekelas aku dan Eliza.
"Ah... sok rajin!"
 "Ngapain dibersihin? Nanti juga kotor lagi!"
Aku, Eliza, dan beberapa teman sekolah yang memunguti sampah yang berserak tidak memedulikan perkataan mereka. Setelah selesai membuang sampah-sampah tersebut ke dalam tong sampah, kami lalu mencuci tangan dengan sabun yang selalu tersedia di wastafel di beberapa sudut sekolah. Setelah itu, kami masuk ke kelas masing-masing.