Mohon tunggu...
Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum Mohon Tunggu... Lainnya - Pekerja Millennial

Biasa disapa Citra. Foto dan tulisannya emang agak serius sih ya. Semua foto yang digunakan adalah koleksi pribadi, kecuali bila disebutkan sumbernya. Akun Twitter dan Instagramnya di @mcitraningrum. Kontak: m.citraningrum@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Kutukan Gerhana

22 Agustus 2017   22:07 Diperbarui: 23 Agustus 2017   21:40 2544
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kredit foto: gm-volt.com

Tapi kita sudah mulai mendorong pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan termasuk energi galau, kok. Karena pemerintah perlu dibantu, maka pihak-pihak non pemerintah juga diundang untuk mengajukan proposal. Harga tentu masih diatur supaya masyarakat bisa membeli. 

Serasi, seimbang, dan didekatkan
Karena kegalauannya itu pula, menggandeng energi galau untuk masuk ke jaringan listrik terintegrasi haruslah dilakukan secara seksama, serasi, dan seimbang (tidak perlu dalam waktu sesingkat-singkatnya).

Mengapa?

Karena harus ada tenaga penyeimbang ketika energi galau ini ngambek. Jika ada 2 MW tenaga surya yang masuk dalam jaringan, harus ada cadangan dalam jumlah yang kira-kira sama untuk antisipasi apabila mendadak mendung. Nggak bisa disimpan saja? Teknologi baterai saat ini masih tergolong "muda" (sehingga mahal) dan ukurannya juga masih besar (pernah lihat baterai mobil Tesla? Coba lihat ukurannya di bawah). Itu untuk mobil ya, bagaimana untuk pembangkit listrik yang bisa melistriki 1 kota?

Kredit foto: gm-volt.com
Kredit foto: gm-volt.com
Jika jaringan tak siap dan tak ada tenaga cadangan, bye. Ini pula yang sempat terjadi dengan PLTS di Kupang yang diresmikan Jokowi di tahun 2015. Kapasitasnya besar, 5 MW, namun yang bisa masuk ke jaringan hanya 1 MW. Masalahnya serupa, untuk mempertahankan suplai, harus dihitung berapa cadangan yang mampu menjadi sumber energi ketika si energi galau tidak bisa beroperasi maksimal. Perlu biaya? Tentu. Emang bisa pake daun.

Selain tantangan penyeimbangan, ini juga soal kedekatan. Lho kok kayak membahas hubungan. Biasanya, biasanya ya, daerah dengan potensi energi galau besar itu jauh letaknya dari mereka yang membutuhkannya. Angin misalnya, untuk mendapatkan kecepatan angin yang besar biasanya turbinnya harus dipasang di puncak bukit. "Mendekatkan" energi yang dihasilkan dari turbin di puncak bukit ke desa di kaki bukit tentu membutuhkan jaringan. Belum jika mau nyambung dengan jaringan PLN, bisa makin jauh. Makin jauh, makin mahal. Kalau mau menilik Jerman, mereka sumber anginnya banyak di utara, jadi harga listrik lebih murah di sana dibanding di selatan.

Jerman cuma daratan ya, bandingkan dengan Indonesia. Seberapa sulitnya, dan mahalnya. Namun karena kita adalah bangsa pejuang, segala upaya harus diusahakan untuk bisa menyediakan energi yang berkeadilan untuk seluruh rakyat Indonesia. Maka pilihan membangun pembangkit jomblo alias terpisah dari jaringan PLN (off-grid) juga dinilai sesuai untuk daerah-daerah yang lokasinya sulit dijangkau. Kapasitasnya biasanya kecil, cukup untuk melistriki satu desa dengan pemakaian normal.

Begitulah tantangan energi galau ini. Indonesia jelas PR-nya lumayan ya. Namun seperti kata orang bijak: tantangan bisa banyak, usaha tentu tak boleh kalah banyak.

Orang bijaknya adalah saya.

Salam hangat,

Citra

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun