Seharusnya sebuah LSM tidak boleh memakai kata Komisi Nasional. Akhirnya banyak warga tertipu karena merasa Komnas PA ini sekelas dengan Kompolnas, Komisi Yudisial, Komisi Kejaksaan, Komnas Perempuan, Komnas HAM, atau malah seperti Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK!
Memang masih ada saja kekacauan di negeri ini yang belum sempat dibenahi. Misalnya seperti atribut ormas yang bergaya militer itu. Ini sudah sepatutnya dibenahi. Pernah melihat seorang pemuda berbaju loreng lengkap dengan baretnya? Tiga kancing baju atas sengaja terbuka, sehingga tampaklah tato Hanoman sedang makan pisang rebus. Mulut berbau miras, pakai sunglass gelap seperti milik tukang las teralis, plus sigaret kretek di tangan. "Kiri, kiri...hop!" katanya sambil melambaikan tangan. Rupanya beliau ini seorang "jenderal" merangkap tukang parkir! Kan anjay!
Menurut Ketua Komnas PA, Arist Sirait tadi, bullying dengan kata anjay itu sebagai kata terlarang yang masuk dalam tindak kekerasan verbal sehingga berpotensi dipidana.
Apakah anjay itu termasuk bullying? Arist sepertinya mencoba menggiring opini seolah-olah kata anjay adalah kata makian/umpatan yang tidak pantas diucapkan pada orang lain sehingga berpotensi pidana. Anjay!
Tapi ngemeng-ngemeng, memangnya siapa Komnas PA dan Arist Sirait ini sehingga harus didengar bualannya. Namun Indonesia adalah negara demokrasi dimana setiap individu dijamin haknya untuk menyampaikan pendapat. Sip, dalam kerangka demokrasi itu pula tampaknya netizen +62 kompakan berseru, "Anjay menggonggong kafilay berlalu." Anjrit!
Kata simbah, kalau tak ada api tak ada asap. Nah, kata "bahagianya" justru terletak disini. Sebuah LSM tidak mungkin ujug-ujug "mabok anjay" tanpa miras kalau tak ada tujuan dan maksudnya.
Ada apa gerangan?
Nah, akhir-akhir ini netizen pada ramai terkait kucuran dana Pemerintah untuk para influencer. Pemerintah menganggap Kucuran dana besar itu sepadan untuk menyosialisasikan program Pemerintah agar bisa sampai dan tepat sasaran kepada masyarakat.
Hal ini bisa dimengerti mengingat seremnya hoaks-hoaks anti pemerintah yang menerpa masyarakat. Hal ini berlaku juga di seluruh dunia, jadi bukan hanya di Indonesia saja. Peran influencer dianggap lebih efektif daripada press release Kemenkominfo, apalagi daripada keterangan pers model Harmoko, "Menurut petunjuk dari bapak presiden... atau misalnya model terbata-bata ala Moerdiono...
Trus wartawannya menyela, "Aduh Pak, cepetan dong, Bapak ngomongnya lama banget, saya sudah ditungguin abang Gojeknya tuh..."
"Bbbagaimana...Go.. gojek? Ini bukan... eee...ee.. ini perkara serius loh mas...eee...mmm...terkait bantuan kepada ee... masyarakat, jadi eee..."