Mohon tunggu...
Nindya Chitra
Nindya Chitra Mohon Tunggu... Novelis - Pengarang dan Editor Paruh Waktu

Hubungi saya di Instagram atau Twitter @chitradyaries

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Memoar dari Perempuan yang Sudah Mati

12 Mei 2020   11:52 Diperbarui: 12 Mei 2020   12:22 275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Latar yang digunakan sebagian besar bertempat di Bogor dan Jakarta. Memang tidak terlalu dieksplor tapi tak mengganggu jalannya cerita. Karakter tokoh-tokohnya mudah dikenali. 

Semuanya punya ciri khas yang dijabarkan dengan sangat detail. Dari gaya bicara, lagu favorit sampai kebiasaan. Karakter favorit saya, jujur saja, Marla. Rasanya dari seluruh penjabaran, Marla yang kelihatan paling hidup--padahal dia yang paling mati. 

Emosi-emosinya, semua tindakannya beralasan---karena itu penjabaran dalam buku hariannya terasa lebih terang dibanding ketika Claudia yang mengambil setir cerita. Claudia memang baik---meski tak sebaik penjabaran Marla. 

Tapi sampai akhir saya tidak menemukan dia seistimewa itu. Banyak tindakannya yang kurang beralasan---mungkin didasari emosi, tapi saya sulit respek ke dia---dia seperti sangat peduli pendapat orang lain tentangnya tapi kadang juga tidak, adegan antara dia dan Kenzo selalu terasa seperti adegan Edward Cullen dan Bella Swan---tapi selalu gagal ketika Alva datang yang mirip juga ketika Jacob datang. Bukankah berarti kemistri Kenzo-Claudia ini sekuat itu?

Memang ada orang-orang seperti Claudia, yang baik karena memang dia baik---tapi orang seperti ini terasa hanya di permukaan, mengambang. Jadi, ketika kisahnya disandingkan dengan drama Marla---dua gadis ini jadi tidak sepadan. Sedangkan Claudia sang narator ini membawa ceritanya dengan kadar sedih yang sama seperti Marla. 

Padahal menurut saya kadarnya berbeda.

Claudia memang bersedih karena kehilangan dan merasa bersalah---tapi dia terlihat baik-baik saja, terlepas dari yang dia katakan tentang obat antidepresi dsb. Tapi Marla, seandainya dia melakukan yang Claudia lakukan, hanya merasakan---hidupnya tetap tidak baik-baik saja. 

Marla harus melakukan sesuatu untuk bisa keluar dari masalah---dia harus dapat nilai yang baik, punya cukup uang, keberanian, dan mungkin keluar dari masalah obsesinya ke Claudia. Will-nya Marla ini kuat sekali. 

Claudia sangat kewalahan menurut saya untuk bisa sejajar dengan karakter sekuat Marla---terlepas penyimpangan karakter seperti mencuri, menguntit, dsb. Claudia sudah punya segalanya---itu nggak asyik banget!

Hal yang sama berlaku untuk Kenzo dan Alva. Dua karakter lelaki yang harusnya menyedot perhatian kaum hawa ini, belum cukup kuat merebut perhatian saya. Dua lelaki ini masih terasa seperti pendatang dalam cerita---ya, penuturan Claudia. 

Alih-alih penting, dua tokoh ini terasa dihadirkan hanya untuk mewarnai hidup Claudia, menyelamatkan Claudia, membuat Claudia terlihat seperti gadis istimewa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun