"Saya ini internist dikirim kesana oleh organisasi, sampe sana. Masy malah nanya agama, saya jawab katolik. Haram kata mereka."
Belakangan, dari berbagai pemberitaan yang sudah mencari tahu kebenaran, postingan tersebut dianggap tidak berdasar. Hoax. Akun tersebut pun diidentifikasi palsu dan tak bisa lagi diakses.
Manajemen darurat
Patut diakui media sosial (medsos) sudah mengubah cara kita berkomunikasi dan mengkonsumsi berita, terutama saat terjadi bencana.
Medsos sejatinya adalah perangkat digital interaktif dengan daya sebar yang cepat. Sifatnya yang interaktif memungkinkan terjadinya dialog dan pertukaran informasi, baik di antara pengguna (konsumen) atau pembuat pesan.
Hal ini tidak kita temukan di berbagai media tradisional seperti surat kabar dan televisi. Saluran tradisional itu bersifat satu arah, berbeda dengan sosmed yang memungkinkan interaksi dua arah atau bahkan lebih.
Dengan karakteristik seperti itu, medsos sesungguhnya sangat membantu dan berperan penting. Informasi terkait kebencanaan bisa cepat tersebar. Sebelum tersiar di televisi atau tercetak di surat kabar, informasi itu sudah bisa tersaji di berbagai lini medsos.
Hebatnya, pertukaran itu tidak hanya menggunakan format teks, tetapi juga audio, gambar dan video. Apa yang terjadi di lokasi bencana bisa dikonsumsi dengan cukup utuh oleh para pengguna lainnya sekalipun terpisah oleh jarak dan waktu.
Sebagai saluran komunikasi baru medsos pun seharusnya membuka peluang untuk terlibat dalam berbagai peran lain berikut.
Menjadi sarana untuk memperluas informasi dan peringatan terkait kebencanaan. Sosmed membuat setiap orang tidak lagi bergantung pada pilihan sumber tunggal, yang terkadang terkendala untuk memberikan update secara cepat.
Medsos berperan sebagai bagian dari manajemen darurat. Tidak hanya mengeluarkan komunikasi darurat dan peringatan dini (sebagaimana bisa kita temukan dengan mudah saat terjadinya gempa bumi melalui sejumlah akun media sosial BMKG), juga untuk mengabarkan perkembangan situasi di lokasi kejadian.