Mohon tunggu...
Carlos Nemesis
Carlos Nemesis Mohon Tunggu... Insinyur - live curious

Penggiat Tata Kota, tertarik dengan topik permukiman, transportasi dan juga topik kontemporer seperti perkembangan Industry 4.0 terhadap kota. Mahir dalam membuat artikel secara sistematis, padat, namun tetap menggugah. Jika ada yg berminat dibuatkan tulisan silahkan email ke : carlostondok@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Harapan Indonesia dan Bunuh Diri atau Depresi

22 November 2017   11:18 Diperbarui: 22 November 2017   11:33 1162
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Close to 800 000 people die due to suicide every year, which is one person every 40 seconds. Many more attempt suicide. Suicide occurs throughout the lifespan and is the second leading cause of death among 15-29 year olds globally. World Health Organization, 2015.

Lalu untuk di Indonesia sendiri setidaknya 2-3 orang melakukan bunuh diri. Badan Pusat Statistik (BPS) mendata sebanyak 812 kasus bunuh diri di Indonesia pada tahun 2015 (angka bisa saja lebih tinggi di lapangan).

Pada kesempatan ini saya tidak ingin menceritakan penyebab-penyebab dari bunuh diri secara konseptual, tidak juga ingin membicarakan pendapat para psikolog tentang depresi, gangguan mental, dan bunuh diri. Disini saya ingin bercerita dari sudut pandang orang yang telah selamat "menyintas" dari keadaan yang sangat gelap.

Pikiran-pikiran untuk mengakhiri kehidupan seringkali terpikirkan di benak saya. Keadaan depresi ini telah berlangsung berbulan-bulan lamanya dengan tidak pernah berhenti. Disebabkan oleh dulunya permasalahan latar belakang keluarga dan ditinggalkan oleh orang yang dikasihi. Namun buruknya, saya juga sudah pernah melakukan percobaan mengakhiri kehidupan tersebut sampai tiga kali. Masih selamat dan bisa bernafas sampai sekarang, hanya disisakan oleh bekas-bekas luka karena self-harming.

Saya bersyukur karena masih dapat tetap hidup. Perjalanan setelah attempt suicidetersebut terasa lebih berat lagi. Karena saya harus berjuang melawan pikiran-pikiran buruk yang berlari liar di dalam benak saya. Merasa malu untuk bercerita. Tidak ada orang yang bisa diceritakan. Setiap harinya selalu dijalani dengan pikiran yang diselimuti oleh awan hitam yang tidak kunjung sirna. Setiap harinya dilalui dengan tidur kurang dari cukup, karena takut akan kesendirian di waktu malam. Setiap harinya dilalui dengan mata yang semakin menebal setiap harinya karena selalu mencucurkan air mata yang tak kunjung usai.

Merasa malu.

Bagi saya orang-orang cenderung untuk menyisihkan dan menutup mata terkait perbincangan tentang depresi, gangguan mental, dan bunuh diri. Takut untuk dinilai orang-orang sebagai seorang yang cacat mental lalu ditinggalkan. Karena saya juga pernah merasakan ditinggalkan karena kekurangan yang saya miliki. Perbincangan hal-hal ini dianggap tabu. Orang-orang lebih suka akan hal yang menyenangkan dan menjauhi hal-hal depresi karena ikut menyerap dirinya ke dalam kejatuhan. Ya begitulah orang-orang. Dan saya yang terjatuh dalam tidak memiliki kawan.

Setiap harinya diselimuti oleh awan hitam

Ketika saya melakukan percobaan tersebut, tidak pernah saya secara benar-benar menginginkan untuk pergi meninggal. Perasaan terluka, lelah membuat pikiran saya mengkerdil lalu memutuskan penghakiman sendiri. Bahwa lebih baik saya pergi untuk sekali saja daripada harus bertahan menderita seumur hidup saya, hidup sebagai manusia yang tinggal dengan kondisi seperti ini. Bukannya tidak sayang terhadap orang tua dan sahabat yang ada, tetapi benar-benar rasanya bertahan semelelahkan itu dibandingkan harus mengakhiri.

Ketika sudah menemukan cahaya dalam diri sendiri

Sampai ke dalam sebuah tahap realisasi. Bahwa tidak ada seorang pun yang bisa saya gantungkan/berharap lebih daripada diri saya sendiri. Keinginan untuk bisa menikmati hidup mulai saya perjuangkan. Mulai terbuka terhadap orang lain untuk meminta pandangan mengenai kehidupannya, melakukan konsultasi rutin ke psikolog, dan memberanikan diri benar2 secara terbuka bahwa saya menerima kondisi saya yang sedari awal memang seperti ini. Bukan pemulihan total yang saya kejar, karena jika seperti itu hanya akan memikirkan depresi dan suicidal thoughtsebagai sesuatu yang benar-benar harus sirna. Yang padahal mungkin saja karena gangguan mental hal tersebut akan selalu ada, saya saja yang harus lebih memegang kendali terhadap diri sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun