Tsuburaya utamanya jualan lisensi dan merchandise, bukan film
Kran uang utama mereka bukan dari hasil jualan film, atau lagu. Kedua stream ini sangat berisiko. Begitu bocor dalam bajakan, habislah sudah. Apalagi di era digital sekarang.Â
Nah, Revenue stream terbesar Ultraman and the gang adalah dari menjual merchandise dan lisensi. Merchandise adalah produk turunan yang berkaitan dengan barang kebutuhan sehari hari, sepatu, baju, kemasan makanan, hingga mainan dengan karakter Ultraman.Â
Sedangkan Lisensi adalah ijin penggunaan hak cipta. Jadi gaes, pihak pembeli lisensi mendapat hak untuk menggunakan karakter yang ia beli untuk kepentingan bisnis sesuai kontrak atau MOU.
Ini adalah model bisnis sebagian besar industri tokusatsu dan anime Jepang. Animation World Network mencatat, untuk karakter-karakter yang memang lagi booming, bisa mendatangkan revenue melebihi revenue dari merchandising blockbuster di America, yang notabene punya pasar 2x labih besar daripada Jepang. Wow.
Nah, berapa sih revenue dari merchandising ini?
Kyodo News Group mencatat IP Ultraman sendiri mampu meraup revenue global sebesar 11.5 milyar USD, dimana 90% sendiri berasal dari merchandising dan penjualan lisensi. Kira kira berap rupiah ya, hitung sendiri yah. Menariknya, kepemilikan Tsuburaya saat ini, 49% di tangan grup Bandai Namco.Â
Film adalah alat marketing, film adalah iklan
Nah, poin ini nyambung dengan poin sebelumnya. Utamanya, mereka ngga jualan film. Bagi model bisnis demikian, film adalah media marketing, Film adalah iklan. Iklan yang berisi story yang berkualitas. Iklan yang durasinya bisa 12 hingga puluhan episode. Iklan yang hampir tiap hari muncul melalui youtube channel.Â
Artinya gaes, makin tersebar filmnya, makin viral marketingnya, dan makin banyak yang kenal Ultraman. Ini adalah keuntungan. Di saat pebisnis film menjadi paranoid dengan bajakan, Tsburaya kayakanya hepi banget kalau film-filmnya kesebar kemana-mana.
Paling paling, mereka sedikit mengandalkan jualan DVD BluRay bagi kolektor sejati. Dalam konteks akuntansi, mungkin bagi mereka, produksi film bukan menjadi akun biaya produk, namun akun marketing. Ini cuma hipotesis saya ya.