Bahkan dulu saya sering di ledek “Hati-hati dengan Nanang, Herdiarto saja dibohongi apalagi kita” kata dokter dokter operator lain selepas Pak Her Pensiun.
Pernah suatu kali ada kirab budaya grebeg Syuro jalanan macet. Ambulans saja tidak bisa lewat, ketika itu ada operasi emergency akhirnya saya jemput naik motor buntut. Tanpa berhelm menerjang macetnya jalan.
“Nang ndak pakai helm kalau ditangkap polisi piye?” khawatir Pak Her.
“Kecekel yo diwenehne...” jawab saya slengean kala itu. Yang bikin pak Her marah, marahnya karena saya lewatkan pematang persawahan untuk menghindari macet.
Pak Her orang disiplin, menjadi direktur atau setelah menjadi direktur selalu datang pagi dan pulang sesuai jam kantor. Pak Her satu-satunya dokter di Ponorogo yang mau memakai seragam putih-putih kala itu.
Satu hal yang masih terngiang, ketika tarif rumah sakit disesuaikan saat itu. Pihak “luar” menganggap berlebihan karena pegawai negeri sudah digaji negara. Namun Pak Her sebagai pimpinan kalau itu mempunyai pemikiran lain, rumah sakit tidak bisa berkembang dan pegawai akan ogah-ogahan bekerja sementara beban kerja semakin bertambah. Semacam memberi insentif kekaryaan sesuai beban kerja.
Protes bertubi-tubi jawab Pak Her, saat pegawai yang lain asyik tidur berpelukan dengan istri anda atau istri orang, kami masih berdarah-darah menyelamatkan istri orang. Pak Her selalu punya cara menjawab pertanyaan dewan ataupun wartawan.
Cerita tentang dekatnya seorang pimpinan dengan bawahan, sebandel apapun berusaha beliau taklukkan. Pernah satu karyawan suka membolos gila sama judi dan mabok tak ingat keluarga. Apa yang beliau katakan pada karyawan itu?
"Aidit saja yang konon tak kenal agama masih ngurus anak istri, kok kamu ndak?"
Teman saya tersebut langsung menangis dan kapok.
[caption caption=" curhatan yang nasibnya sama, seringkali ditinggal pergi oleh suaminya"]