2. Menghitung dan merencanakan kegiatan, sekalipun yang paling sederhana.
3. Siap membelanjakan waktu lebih dan menghadapi tantangan penuh tidak kepastian. Konsekuensi usaha cuma ada dua: mendapatkan laba dan menderita rugi.
Usaha merupakan kegiatan penuh risiko. Selama proses pembentukannya, tak ada usaha yang tidak merugi. Maka sebagian penghasilan tetap dari kantor dalam skala tertentu digunakan untuk menutup kerugian.Â
4. Mempersepsi peluang yang sangat mungkin ditangani. Kurang lebih begini, usaha direncanakan berada dalam jangkauan penanganan dan pengawasan.
5. Menyediakan inisiatif, effort, dan waktu tersendiri dalam merintis usaha. Tidak seperti bekerja kantoran, yang umumnya memiliki deskripsi pekerjaan sudah jelas.
6. Pada satu keadaan tertentu, siap meninggalkan zona nyaman dengan penghasilan tetap lalu beralih ke kegiatan yang penuh tantangan.
7. Penting membicarakan kemungkinan-kemungkinan di atas dengan pasangan hidup. Jika masih bujangan, berkonsultasilah dengan kenalan yang berpengalaman atau dituakan.
***
Melalui rangkaian pemikiran di atas --kendati lupa urutannya-- saya merintis kegiatan usaha sejak masih bekerja di satu perusahaan. Dari pengadaan barang hingga kontraktor untuk pekerjaan pemerintah.
Catatan: usaha kuliner yang pertama kali diambil adalah karena kepepet. Menjalankannya demi bertahan hidup, berhubung kegiatan usaha kantor tempat saya bekerja ambruk, sebagai dampak krisis moneter yang berlanjut ke Gerakan Reformasi 1998.
Bagaimanapun, merintis usaha tidaklah semudah teori. Ada saat-saat ia mengalami masa paceklik sebelum benar-benar dapat dipanen. Kapan panen? Waktu dan pengalaman yang akan menjelaskannya.