Mohon tunggu...
Bob S. Effendi
Bob S. Effendi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Konsultan Energi

Konsultan Energi, Pengurus KADIN dan Pokja ESDM KEIN

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

PLTN, Sebuah Keniscayaan Bagi Indonesia

20 Januari 2019   01:27 Diperbarui: 16 September 2019   21:01 2330
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

cadangan fossil menipis
cadangan fossil menipis
5)  Mencapai Target EBT 23% Pada Tahun 2025: Untuk mencapai target 23% EBT atau setara dengan 45,000 MW maka di butuhkan terpasang 1,5% per tahun padahal saat ini hanya mampu di bawah 0,5% maka jelas pada 2025 hanya akan tercapai tidak lebih dari 15%, hal  ini merupakan kenyataan yang tidak dapat di sangkal bahkan di akui oleh Menteri ESDM [8].  

Untuk mencapai 23% maka setiap pertumbuhan EBT rata-rata harus di atas 1,5% sementara data menunjukan sejak 2010 hanya tumbuh rata-rata 0,36% per tahun (grafik bawah). 

Bahkan Bapennas dalam Policy memo PLTN mengatakan "PLTN merupakan alternatif paling akhir sekaligus masuk akal untuk memenuhi kebutuhan pasokan/pembangkitan tenaga listrik seperti diproyeksikan KEN 2015-2050". Menurut BPPT untuk menopang besarnya kebutuhan industri , jenis EBT yang paling memenuhi syarat ialah energi Nuklir. 

pertumbuhan EBT
pertumbuhan EBT
 Penerimaan Masyarakat

Penerimaan masayarakat selalu di jadikan alasan oleh berbagai pihak yang tidak menghendaki PLTN sebagai alasan padahal faktanya jauh dari kenyataan. Berdasarkan survey dengan 4000 responden di 34 propinsi yang di lakukan oleh BATAN, sejak tahun 2011 penerimaan masyarakat terhadap Nuklir meningkat terus dari tahun ke tahun dari 49% (2011) sampai pada level 77,5% (2017). -- Angka ini dapat di katakan tertinggi di dunia, karena negara-negara yang mengoperasikan PLTN angka penerimaan masyarakat berada pada kisaran 65% - 70%. [9]

Penerimaan terhadap PLTN
Penerimaan terhadap PLTN
Nuklir Sebuah Keniscayaan

Sangat jelas bahwa ke 5 alasan di atas tidak mungkin dapat di jawab tanpa Nuklir sehingga pemanfaatan energi Nuklir sudah merupakan keniscayaan bila Indonesia ingin menjadi negara maju melalui tumbuhnya industri yang memiliki daya saing untuk itu membutuhkan listrik skala besar, murah dan handal. 

Sebagaimana disampaikan Kepala BPPT Unggul Priyanto, Indonesia dalam keadaan darurat energi, salah satu solusi menghadapi tantangan tersebut menurutnya adalah dengan pemanfaatan energi Nuklir, "Pilihan terhadap Nuklir semakin tidak terelakan karena Indonesia membutuhkan pembangkit skala besar dengan pasokan energi yang kontinu" [10]

Jakarta 19/01/19
BSE 


 Referensi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun