-1987-
Puisi yang berusaha memberi suara bagi derita sunyi rakyat tertindas pada masa rezim Orde Baru berkuasa tersebut pernah masyhur pada masanya dulu. Tak terhitung kali dibaca sebagai semacam "lagu kebangsaan". Di kegiatan-kegiatan swadaya masyarakat. Yang berkehendak membuka sumbat kuping sang rezim.Â
Puisi Gus Mus dikenal luas sebagai "puisi balsem". Memuat pesan kemanusiaan universal, wajarlah jika puisi nyelekit karena jujur menarasikan realita kehidupan yang memang pahit itu tak lekang oleh waktu. Tak aneh pula jika karya ulama kharismatik yang juga Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah itu tak putus-putus memantik inspirasi. Kepada generasi jadul maupun generasi kekinian.
Felix Siauw (Mengaku) Terinspirasi Puisi Gus Mus
Pada tanggal 3 Desember 2018, sehari setelah acara Reuni 212, Felix Siauw mengunggah status di akun instagramnya. Di caption foto acara "reuni politik" di Monas dan sekitarnya itu ia tuliskan larik-larik kata yang diberinya tajuk "Terinspirasi Puisi Gus Mus" sebagai deskripsinya.Â
Terinspirasi Puisi Gus Mus
Oleh: Felix Siauw
Kau ini bagaimana? Kau bilang yang datang 212 takkan banyak peminatnya, saat yang datang membludak kau bilang buih saja
Kau ini bagaimana? Kau katakan reuni 212 itu radikal, tapi kau sendiri mengancam tak pakai akal. Kau suruh kami hargai beragam, kau sendiri main ancam
Kau ini bagaimana? Kau bilang bebas berpendapat, aku datang 212 kau tuduh aku dibayar, aku tak datang 212 kau klaim persatuan sudah bubar
Kau ini bagaimana? Kau suruh aku untuk percaya dan yakin padamu, tapi Monas dan jalan-jalan penuh manusia kau bilang hanya hadir 40 ribu
Kau ini bagaimana? Aku angkat merah putih kau curigai, aku angkat kalimat tauhid kau tuduh aku tak cinta negeri, aku tak angkat apapun kau bilang nuraniku sudah mati