"Apa hubungannya sama profesi aku?"
Ra menepuk dahinya, "oh God, kamu tuh lemot apa idiot sih? Pokoknya siang nanti setelah kamu tahu identitas maling motor itu, putusin Andra!" katanya sambil berlalu meninggalkan kamarku, bersama keheningan ia tinggalkan juga rumahku.
Aku terdiam memeluk kakiku yang melipat, sungguh aku akui aku tak sepintar Ra. Aku yang lebih tua darinya pernah tinggal kelas sewaktu SD. Dia anak yang cerdas, selalu juara kelas. Kadang aku ingin sekali memberikan nasib kuliahku untuknya yang bercita-cita jadi profesor. Dan aku dapat hidup tenang bersama samudera kata-kataku yang harus kususun lagi dalam tulisan, demi melayang lagi di langit khayalku.
Saking pintarnya Ra, dan bodohnya aku, aku selalu tertegun pada kata-katanya. Sehingga, kerap seusai kalimatnya aku berkata pada diriku sendiri, "benar juga ya kata si Ra?"
Tapi, tentang hubunganku dengan Andra, haruskah aku menuruti Ra?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H