Baca juga : Ketika Seorang Filsuf Bermain Media Sosial
Dalam hegemonial kata, maknanya hanya berputar pada sensasi di permukaan yang membuat aprehensi atau kesan yang menyilaukan, yang justru menutup dari makna yang sebenarnya. Kesilauan-nya itu tidak memberi terang, justru menggelapkan yang sesungguhnya.Â
Hanya saja, dewasa ini, di masa yang disebut sebagai pasca-kebenaran, nilai filosofis tidak lagi menjadi acuan utama. Sensasional kata mengalahkan kesungguhan makna. Manusia disilaukan oleh kata-kata yang retorik, yang kehilangan referensinya pada makna sesungguhnya: kebijaksanaan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI