Hal tersebut mengakibatkan ia kesulitan ikut berinteraksi dan terlibat diskusi di lingkungan tempat tinggalnya.Â
Lalu apa yang menjadi penyebab seseorang kesulitan menguasai atau bahkan sekedar berkomunikasi menggunakan bahasa ibu yakni bahasa daerah sebagai bagian dari identitas kemajemukan bangsa Indonesia?
Bahasa Indonesia menjadi Sarana Komunikasi Satu Arah
Komunikasi antara anak dan orang tua yang dimulai sejak sang anak masih kecil yakni menggunakan bahasa Indonesia sebenarnya baik secara visi pengenalan bahasa utama dengan tujuan memperkenalkan bahasa resmi negara dan mengajak anak mengenal sifat nasionalisme dengan mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.Â
Misalnya, ada seorang dewasa yang sejak kecil telah diperkenalkan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi satu arah sehingga, ketika ia menginjak usia dewasa dan terlibat dalam aktivitas akademik ia selalu menggunakan bahasa Indonesia.Â
Yang menjadi masalah adalah ketika ia memiliki kewajiban mengetahui latar belakang etnis dari kedua orang tua dan bagaimana bahasa daerah kedua orang tuanya dapat dipelajari atau dianalisis ketika ia sedang berkuliah di salah satu perguruan tinggi dan mengambil jurusan bahasa Indonesia dan daerah tentu si anak tadi akan menemukan suatu kendala.Â
Kendala yang pertama dihadapi adalah kurangnya perbendaharaan kata dan ketidakmampuan memverbalkan bahasa daerah dari salah satu kedua orang tuanya untuk kepentingan penelitian lapangan.
Pengaruh Bahasa Daerah lain di Lingkungan Mayoritas Masyarakat
Situasi semacam ini sering ditemukan di kampung-kampung atau lingkungan penduduk yang berasal dari program transmigrasi di tahun 70-an. Misalnya di daerah Long Iram.Â
Terdapat sebuah kampung yang dinamakan kampung Sukomulyo. Mayoritas masyarakat yang tinggal dan menetap di sana adalah masyarakat bersuku Jawa.Â
Di sisi lain, ada beberapa masyarakat minoritas yang juga tinggal dan menetap di daerah tersebut. Misalnya saja suku Paser.Â