Mohon tunggu...
Bambang Setyawan
Bambang Setyawan Mohon Tunggu... Buruh - Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menangguk Untung dari Bambu Wulung

15 Mei 2016   15:14 Diperbarui: 15 Mei 2016   16:29 2135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi warga kebanyakan, bambu wulung (berwarna hitam) tak lebih dari sekedar tanaman yang tumbuh liar di kebun. Kendati begitu, di tangan masyarakat Desa Kali Jambe, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo bambu- bambu tersebut mampu diubah menjadi beragam mebel yang mendatangkan keuntungan berlipa- lipat.

Di Kabupaten Purworejo, terdapat sentra kerajinan produk mebel yang terletak di Kecamatan Bener dan Bayan. Di wilayah Kecamatan Bener, tepatnya di desa Kali Jambe, puluhan pengrajin bambu terlihat tengah memproduksi beragam mebel di pinggir jalan raya. Selain sebagai tempat produksi, kios mau pun rumah mereka juga dijadikan showroom. Sehingga, pengguna jalan kerap mampir untuk sekedar melihat atau berbelanja.

Model tutul harganya Rp 850 ribu (foto: dok pribadi)
Model tutul harganya Rp 850 ribu (foto: dok pribadi)
Agak susah menelusuri siapa sosok pertama kali yang mengolah bambu menjadi beragam mebel, yang jelas, keberadaan para pengrajin sudah ada sejak tahun 1980 an. Bambu- bambu berwarna hitam yang biasa disebut sebagai bambu wulung tersebut, di tangan pengrajin disulap menjadi kursi teras, kursi tamu, meja kursi makan, almari, kursi malas, bufet hingga gazebo. Sedang harganya berkisar Rp 150.000 – Rp 1.500.000 tergantung jenis barangnya.

Salah satu pengrajin yang ada di Desa Kali Jambe, yakni Sukimin (50) mengaku, dirinya 26 tahun lalu bekerja pada juragan mebel di Kecamatan Bener. Tak butuh waktu lama, tahun 1995, setelah merasa mampu memproduksi sendiri, akhirnya ia memilih menjadi pengrajin sekaligus juragan. “ Waktu itu modal saya berkisar Rp 300 an ribu, selain saya manfaatkan untuk membeli bahan baku berupa bambu wulung, juga saya belanjakan rotan sebagai pengikat,” ungkapnya.

Kursi tamu perhatikan ornamennya (foto: dok pribadi)
Kursi tamu perhatikan ornamennya (foto: dok pribadi)
Pada awal menggeluti profesi menjadi pengrajin, Sukimin tak mampu berinovasi. Ia menggunakan desain mantan juragannya yang sudah dihafalkan. Secara perlahan, berkat ketelatenannya, dirinya bisa membuat desain sendiri sehingga produksinya semakin beragam. “ Untuk kursi tamu satu set ini, harganya Rp 800 ribu,” tukasnya sembari menunjuk kursi yang biasa dipajang di ruang tamu.

Kendati belajar secara otodidak, namun, karena sudah kenyang makan asam garam, Sukimin mampu membuat produk mebel hanya dengan melihat sekilas contohnya. Bukan hanya dirinya, di Kecamatan Bener mau pun Bayan, terdapat ratusan orang yang bisa mengubah bambu menjadi aneka mebel bermodalkan ketelatenan. “ Kalau sekolah resmi (formal) memang tidak ada, yang ada ya magang dulu sebagai buruh sambil belajar ,” jelasnya.

Meja kursi makan seharga Rp 650 ribu (foto: dok pribadi)
Meja kursi makan seharga Rp 650 ribu (foto: dok pribadi)
Tak Kenal Paceklik

Apa yang disampaikan Sukimin ternyata dibenarkan oleh Sutikno, juragan mebel bambu wulung asal Desa Kali Jambe yang mempunyai showroom di Jalan Raya Purworejo- Magelang KM 20. Sebelum mempunyai pekerja, ia bekerja di tempat orang lain sebagai buruh. Hampir lima tahunan dirinya belajar membuat beragam mebel, termasuk mengukir ornamen. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, hingga akhirnya, awal tahun 1990 an dia nekad membuka usaha sendiri.

Berbeda dengan Sukimin, Sutikno lebih banyak berinovasi. Selain mendesain sendiri, ia juga memiliki puluhan pekerja. Dirinya hanya bertugas melayani order dan memimpin pemasangan. “ Kami mempunyai produk gazebo, yang untuk pemasangannya harus saya awasi sendiri,” kata Sutikno sembari menjelaskan harga gazebo termurah mencapai Rp 4,5 juta berukuran 2 X 2 meter.

Bengkel merangkap showroom Sukimin (foto: dok pribadi)
Bengkel merangkap showroom Sukimin (foto: dok pribadi)
Gazebo buatan Sutikno berbeda dengan gazebo bambu pada umumnya, perbedaan menyolok terlihat di bagian atapnya. Bila gazebo lain beratapkan jerami atau ijuk, Sutikno memilih menggunakan genteng metal buatan pabrik yang lebih mampu melindungi bambu- bambu di bawahnya. Selain itu, gazebo made in Sutikno berupa rangkaian knock down.Sehingga, orang awam pun bakal bisa merangkainya sendiri.

Menurutnya, mebel- mebel bambu yang ia produksi memiliki daya tahan 10- 15 tahun, tergantung pemakaiannya. Bila tidak terkena air dan sinar matahari secara langsung, maka kursi, almari mau pun ranjang buatannya bisa bertahan minimal 10 tahun. Sebab, material bambu wulung yang digunakan merupakan bambu tua yang dijamin tidak pecah oleh perubahan cuaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun