Bagi saya, itulah maksud dari tagar #WeAreVenom atau #KitaVenom yang sering kita lihat di media sosial. Dalam diri kita, pasti ada Venom atau hal-hal yang membuat iman kita goyah dan mempengaruhi pikiran kita untuk berbuat jahat, seperti Venom di dalam tubuh Eddie yang terus menjadi pergulatan batinnya.Â
Keengganan Eddie untuk berbuat jahat dipatahkan oleh Venom yang ingin mengubah Eddie menjadi pahlawan, meski dengan cara yang salah, setidaknya tidak jadi pecundang lagi.Â
Orang baik seperti Eddie pasti akan memikirkan konsekuensi atas perbuatannya, sementara Venom mendorongnya untuk mendobrak aturan, bahkan sampai level paling ekstrem sekali pun, seperti memakan kepala orang semaunya di jalan. Konsep inilah yang membuat saya suka dengan penceritaan film Venom.
Kegemaran Venom dengan kepala manusia untuk dimakan sebenarnya terdengar cukup disturbing, saya kira akan banyak adegan Eddie memakan otak manusia lumat-lumat atau mencaplok kepala manusia hingga buntung. Ternyata tidak juga. Venom lebih mengedepankan aksi bak-bik-buk dengan koreo fighting yang keren. Selain itu, adegan kejar-kejaran antara anak buah Carlton dan Eddie yang mengendarai motor cukup seru.Â
Jalanan San Fransisco yang menanjak tinggi menambah ketegangan adegan, apalagi sosok Venom sering muncul bergantian di suasana genting itu, yang lagi-lagi mengundang banyak tawa karena ekspresi Eddie yang sangat ketakutan tapi butuh Venom juga untuk melindunginya.
Overall, saya sangat menikmati film Venom. Terlepas dari awalnya yang cenderung membosankan, sisi komedi dan aksinya cukup menjanjikan. Akting Tom Hardy pun patut diberikan apresiasi tinggi.
Venom bisa ditonton di bioskop-bioskop terdekat mulai 3 Oktober 2018. Jangan beranjak buru-buru dari kursi bioskop karena ada dua post-credit scenes yang memberikan petunjuk untuk sekuelnya. Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H