Tampang Janar berubah muram dan serius. Keti tersenyum, "Masih menganggapku teman?"
Dia menatap lelaki itu dengan cermat, mengamati setiap lekuk wajahnya. Penguntitnya memang tampan. Alis bulan sabitnya tipis dan sempit. Hidungnya mancung memberi kesan angkuh dan tulang pipinya yang bersudut diukir ke arah rahang yang tajam. Mata hitamnya bulat dan cemerlang, berkilau gembira penuh semangat muda. Rambutnya dikepang ke belakang seperti miliknya. Bahu lebar dan tubuh kekar di balik destarnya. Aroma jantan menguar dan suaranya bergema dalam ketika dia berbicara.
Keti menyipitkan matanya dan mencondongkan tubuh ke wajah Danar, "Apakah kita sudah pernah bertemu, kisanak?"
Senyum terbentuk di wajah lelaki itu. "Ah, kamu ingat sekarang? Dulu aku bergabung dengan Kambing Hitam dan kita pernah bentrok beberapa kali. Anggap saja aku menyukai jurus-jurus pedangmu yang luar biasa dan aku menjadi penggemar beratmu".
Keti mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya, "Tidak buruk. Jadi kalian berencana untuk menyergapku karena aku sendirian sekarangPedangnya menusuk lebih dalam ke tenggorokan Janar, membuka lagi luka tadi yang sudah hampir membeku. "Cukup cerdas. Tapi kalau kalian pikir aku akan jatuh dengan mudah, aku berjanji kamu akan kecewa."
Janar menghela napas panjang dan suaranya menjadi serak karena ludah di tenggorokannya terasa asin. "Telingamu tersumbat atau cara berpikirmu tak secepat pedangmu? Aku bilang DULU aku salah satu dari mereka, Sekarang sudah tidak! Aku tidak tahu kamu akan masuk ke kedai minum. Itu hanya kebetulan atau mungkin memang kehendak para dewa karena kami benar-benar membutuhkan seseorang sepertimu."
"Kita? Kamu meninggalkan satu gerombolan begal hanya untuk bergabung dengan kelompok perampok lainnya? Aku sama sekali tak tertarik dengan rencanamu, kisanak."
"Memang aku bergabung dengan kelompok baru. Tapi kami bukan begal biasa. Tujuan kami mulia."
Terpaku Keti menatapnya selama beberapa kejap dan kemudian melangkah mundur, menjauhkan pedangnya dari tenggorokan Janar dan berbalik pergi,
"Seperti yang kubilang, aku tidak tertarik. Selamat tinggal."
"Kamu akan tertarik," seru Janar, "setelah mendengar apa yang aku katakan."