Mohon tunggu...
Aurora Saubil Navira
Aurora Saubil Navira Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Begini Awal Mula Konflik Rusia Versus Ukraina, Akankah Mencapai Titik Terang?

23 Maret 2022   09:25 Diperbarui: 28 Maret 2022   11:49 324
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Isu konflik antara negara adidaya dengan negara yang masih satu wilayah pecahan dari Uni Soviet sekarang tengah berkonflik hebat yaitu antara negara Rusia dengan negara Ukraina menjadi semakin panas.

Akhir Februari lalu, Rusia melancarkan operasi militer ke ibukota Ukraina, Kiev. Odessa, Kharkiv dan Mariupol. Konflik tersebut dimulai dengan diserangnya kota-kota penting di Ukraina.

Hingga sekarang, banyak upaya-upaya kesepakatan damai yang dilakukan demi menghentikan konflik di dua negara tersebut.

Lantas, bagaimana kronologi awal terjadinya konflik antara dua negara pecahan Uni Soviet ini?

Hubungan antara Rusia, Ukraina, dan NATO

Hubungan Rusia dan Ukraina mulai memanas saat Presiden Rusia, Vladimir Putin geram usai Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada dunia bahwa Ukraina ingin bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang merupakan sebuah organisasi internasional terkait masalah dan penyelesaian konflik pertahanan di negara Atlantik Utara.

Organisasi ini pada awalnya sudah pernah menolak Rusia ketika ingin bergabung ke dalamnya, NATO menolak Rusia karena tidak ingin Rusia menjadi negara yang mendominasi dari segi militer dan hal lain, yang kemudian dapat berakibat kepada menurunnya eksistensi Amerika Serikat sebagai negara yang kuat dan mendominasi.

Lantas apa yang menjadi alasan negara Ukraina untuk bergabung ke dalam NATO mengingat Rusia saja ditolak oleh NATO yang notabenenya adalah negara yang kuat dan mengapa Rusia menyerang Ukraina ketika mendengar kabar bahwa Ukraina ingin bergabung dengan NATO?

Sebenarnya konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina saat ini bukan merupakan hal pertama yang terjadi.

Rusia dan Ukraina sudah mulai berkonflik dari beberapa tahun belakangan, seperti pada sekitar tahun 2013-2014 di mana Rusia dituduh melakukan agresi militer ke wilayah Krimea, padahal Rusia pada saat itu tengah membantu upaya penyelesaian konflik domestik dari negara Ukraina yang mana adalah Krimea.

Konflik tersebut disebabkan oleh krisis politik di mana pemerintah Ukraina pada saat itu, Viktor Yanukovych membuat banyak kebijakan yang kontroversial sehingga membuat rakyat Ukraina marah. Karena hal tadi, rakyat Ukraina bersama-sama ingin melengserkan pemerintahannya dan ternyata berhasil, dari hal ini kemudian menimbulkan dua kubu berbeda di mana kubu satu pro terhadap Rusia dan kubu lain kontra terhadap Rusia.

Sayangnya usaha Rusia dalam membantu penyelesaian konflik domestik di Krimea berakhir tragis. Rusia dalam hal ini berusaha keras untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan menurunkan pasukan militernya ke wilayah Krimea yang malah berakhir kepada tuduhan bahwa Rusia ingin menguasai Krimea.

Rusia yang merasa sangat kesal atas tuduhan itu langsung berbalik arah menyerang Krimea, balasan ini bukan hanya sekedar rasa kesal Rusia atas tuduhan itu namun juga ternyata wilayah Krimea ini adalah tempat yang sangat strategis.

Lalu bagaimana hubungan antara Rusia dengan NATO?

Rusia dulunya memang sangat tidak mau untuk ikut campur bahkan tidak pernah terpikir untuk bergabung dengan organisasi pertahanan ini. Rusia menolak untuk masuk ke dalam NATO dengan alasan bahwa Rusia tidak ingin untuk 'mempertontonkan' rahasia militer mereka kepada dunia khususnya tentang nuklir.

Hal ini merupakan salah satu aturan yang ditolak oleh Rusia terkait transparansi terhadap hal militer bagi setiap anggota NATO. Selain itu, Rusia juga berhubungan erat dengan China dalam berbagai hal, karena hal ini lah Rusia juga tidak ingin bergabung dengan NATO yang mana kita ketahui bahwa anggota NATO terdapat Amerika Serikat di mana antara Amerika dan China masih terus berkonflik.

Alasan lain adalah bahwa Rusia sudah tergabung dalam organisasi pertahanan keamanan kolektif (CSTO) yang apabila Rusia bergabung dengan NATO, maka otomatis Rusia akan keluar dari CSTO.

Namun, dari beberapa alasan tadi Rusia pernah dengan senang hati mencoba bergabung ke dalam NATO, tapi apa daya justru ditolak mentah-mentah.

Jika mengingat kembali, hubungan antara Rusia dan NATO memang dari awal sudah tidak harmonis mengingat alasan-alasan tidak inginnya Rusia untuk bergabung ke dalam NATO. Lalu mengapa Ukraina secara tiba-tiba ingin bergabung dengan NATO, padahal sudah berada di bawah perlindungan dari Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy secara mengejutkan mengatakan bahwa Ukraina ingin bergabung dengan NATO pada Februari 2022.

Hal itu tentunya secara tidak langsung menjadi sinyal berbahaya untuk Ukraina mengingat bahwa Rusia sangat tidak suka dengan NATO dan tidak menginginkan negara Ukraina dan sekitarnya untuk bergabung dengan NATO karena dapat merusak perdamaian negara.

Pemicu pecahnya konflik antara Rusia – Ukraina

Fokus utama pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina pada 24 Februari 2022 tidak lain seperti yang sudah diketahui adalah karena keinginan Volodymyr Zelenskyy agar Ukraina bergabung ke dalam NATO.

Keinginan Zelenskyy agar Ukraina bergabung dengan NATO tidak lepas dari iming-iming keuntungan apabila Ukraina bergabung. Jika Ukraina bergabung maka akan mendapatkan keuntungan yang besar dan akan dibantu oleh semua negara anggota NATO apabila terjadi konflik yang melibatkan militer dan pertahanan negara.

Jika NATO sampai mendirikan pangkalan militernya di wilayah Timur, maka dapat dikatakan akan membuat pertahanan dan perdamaian di wilayah tersebut menjadi membahayakan, oleh karena itu Rusia tidak ingin NATO ada di wilayahnya dan negara di sekitarnya untuk bergabung.

Keinginan bergabungnya Ukraina dalam NATO ternyata bukan salah satu fokus utama yang membuat pecahnya konflik Rusia – Ukraina, melainkan ada banyak faktor yang mendasarinya bahkan terdapat satu faktor menarik di dalamnya.

Isu Permintaan Perlindungan dari Separatis Pro-Rusia

Adanya permintaan perlindungan dari diskriminasi yang dirasakan oleh para kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Timur Ukraina menjadi satu dari beberapa fokus dalam pecahnya konflik Rusia – Ukraina.

Vladimir Putin mengatakan bahwa etnis mereka sudah di diskriminasi yang kemudian meminta perlindungan dan bantuan dari Rusia untuk menyelesaikan isu diskriminasi tadi. Para separatis ini juga meminta pengakuan kemerdekaan atas wilayah yang mereka rebut yaitu Donetsk dan Luhansk.

Rusia pada saat itu langsung mengakui bahwa wilayah Donetsk dan Luhansk sudah merdeka dari kekuasaan Ukraina mengingat dulunya masih merupakan wilayah Ukraina.

Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan Rusia untuk melakukan serangan kepada Ukraina untuk segera mengakui kemerdekaan wilayah tersebut dan Rusia sekaligus membantu melindungi para separatisnya dari diskriminasi.

Isu Kerjasama Pipa Gas Alam Jerman – Rusia

Isu ini menjadi fokus yang menarik dalam konflik Rusia – Ukraina karena jika ditelusuri fokusnya bukan Ukraina saja melainkan secara mengejutkan datang dari Jerman di mana antara Jerman dan Rusia pada saat itu juga sedang melakukan kerjasama di bidang gas alam yang dinamakan dengan kerjasama Nord Stream 2.

Kerjasama ini sudah sangat siap dan matang untuk dilaksanakan, akan tetapi tidak mengejutkan jika Amerika Serikat menolak kerjasama pipa gas alam ini sampai terlaksana karena tidak ingin Jerman menjadi tergantung kepada Rusia untuk urusan perdagangan dan tidak menginginkan Jerman dan Rusia menjadi mitra bisnis yang kemudian dapat melepaskan Jerman dari lingkaran perdagangan dengan Amerika.

Amerika yang memang menolak kerjasama ini berusaha keras untuk menggagalkannya dengan cara menambah isu baru yaitu menitikkan isu tersebut kepada Ukraina yang ingin bergabung dalam NATO dan hal ini terbukti berhasil menggagalkan kerjasama Nord Stream 2 antara Jerman dan Rusia karena akibat dari invasi Rusia ke Ukraina sudah membuatnya menjadi ‘negara yang jahat dan melanggar hukum internasional serta membahayakan dunia’.

Pecahnya konflik Rusia – Ukraina, membuat banyak negara khawatir dan berupaya untuk melakukan apapun agar bisa mencapai titik terang untuk menyelesaikan konflik Rusia – Ukraina seperti jalan diplomasi, dan perundingan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun