Aku diam. Rasanya pertanyaan Midah tak memerlukan jawaban.
Ada keheningan panjang di antara kami berdua. Midah seperti kehilangan kata. Sementara aku memilih untuk tak berkata-kata. Midah akhirnya bersuara.
“Mak, sini mangganya aku kupasin. Tadi udah aku cobain, manis kok. Midah ambil pisau di dapur ya.”
Tanpa menunggu jawabanku, dia melesat ke dapur. Semenit kemudian Midah kembali. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pisau. Tangan kirinya memegang sebuah ponsel yang sedang berdering.
“Mak, ini hape Mamak, kan? Ada telpon dari nomor nggak dikenal nih!” Midah mengulurkan ponsel jadul yang kubeli dalam kondisi bekas setahun lalu. Kupicingkan mata membaca layar. Tidak tertera nama siapapun, hanya sederet angka. Kutekan tombol ‘on’, lalu sebuah suara bernada resmi menyapaku. Hatiku mendadak cemas.
“Mak, kok nangis? Ada apa?” Midah bertanya khawatir melihatku seperti orang yang mendapat pukulan mental sesudah menerima telepon dari orang tak dikenal. Midah memelukku erat-erat, sebab aku sudah mulai menangis tersedu.
“Firman, Dah...si Firman...” jawabku di antara isak.
“Iya, Firman kenapa, Mak?”
“Kecelakaan.” Tangisku kian keras.
“Innalillahi.”
[bersambung]