Kurnia, Iit, dkk.. 2013. Kajian Feminisme Dalam Novel Secuil Hati Wanita Di Teluk Eden Karya Vanny Charisma. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa. 2(7).
Nurhayati, Enung. 2019. Cipta Kreatif Karya Sastra. Bandung: Yrama Widya.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumarjo, Jacob dan Saini K.M.. 1998. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Triwikromo, Riyanto. 2015. Penguburan Kembali Sitaresmi. Cerpen Kompas.
Sinopsis Cerpen
Cerpen ini awalnya menceritakan tentang rencana pembongkaran kuburan tempat dikuburkannya 24 wanita yang dianggap antek-antek Gerwani dan dibantai pada masa orde baru. Kemudian hal itu membuat tokoh Aku yang merupakan saksi kejadian tersebut teringat akan cerita pembantaian tersebut dan ingin menceritakannya kepada seseorang.Â
Kemudian tokoh Aku mulai menceritakan tentang kisah kelam pembantaian 24 wanita tersebut. Awalnya ke-24 wanita tersebut dikejar-kejar oleh serdadu-serdadu pemerintah dengan tujuan untuk membunuh mereka.Â
Wanita-wanita tersebut dibawa ketengah hutan dengan menggunakan mobil Jeep milik serdadu-serdadu pemerintah. Mereka kemudian mulai disiksa satu persatu oleh serdadu bersenjata api tersebut. Taka da kepala wanita-wanita tersebut yang tidak pecah akibat dipukulu dengan popor senjata oleh tentara-tentara.Â
Daging dan darah wanita-wanita itu mulai berceceran di tanah. Namun ada seseorang wanita yang tidak mempan oleh peluru serdadu tersebut. Perempuan itu adalah Sitaresmi yang merupakan seorang dalang dan pemimpin dari 23 wanita lainnya. Tentara-tentara itu mulai mengikat Sitaresmi di pohon dan menusuknya dengan bayonet namun tak mempan. Lalu tentara-tentara tersebut mncoba menusuk mata Sitaresmi dengan bayonet namun, tetap saja seperti ada perisai penghalang yang melindungi Sitaresmi. Tentara pun akhirnya menyuruh sinden yang merupakan anak buah Sitaresmi membunuh Sitaresmi dengan belati. Namun ketiga sinden itu justru malah berbalik kearah serdadu untuk menyerang serdadu itu. Namun ketiga sinden itu malah mati karena peluru para serdadu lebih cepat menghujami tubuh mereka.Â
Sitaresmi akhirnya memanggil para serdadu untuk mendekat. Entah kata-kata apa yang diucapkan Sitaresmi kepada serdadu itu sehingga serdadu-serdadu tersebut mulai mengencingi peluru dan senjata mereka dan kemudian menyerang Sitaresmi kembali. Sitaresmi dan 23 wanita lainnya akhirnya berhasil dibunuh oleh serdadu-serdadu pemerintah dan dikuburkan bersama-sama dengan cara yang tidak layak. Cerita pun kembali ke masa sekarang yaitu tokoh Aku yang mencoba meyakinkan seseorang dengan cerita tentang Sitaresmi yang ia ceritakan. Akhirnya kuburan 24 wanita-wanita tersebut pun dibongkar oleh relawan untuk kemudian dimakamkan lagi dengan prosedur yang lebih layak dan diiringi dengan doa-doa.