"Salam kenal Pak Akhsan, senang berkenalan dengan bapak. Kami, anggota rombongan dari BPIP, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Mampir di Desa Komodo untuk Jumatan," ujar salah seorang di antara kami.
"Masjidnya besar ya pak, meski belum jadi," ujar yang lain.
"Iya, itu masjid lama di Desa Komodo. Usianya sudah sekitar 45 tahun dan bangunan awalnya sudah termakan usia. Jadi warga berinisiatif untuk merenovasi masjid dan sengaja dibangun lebih besar agar dapat menampung banyak jamaah di desa ini. Maklum penduduk di sini lumayan banyak," jawab Haji Akhsan.
"Renovasi juga bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi diharapkan juga sebagai tempat pendidikan agama Islam baik untuk anak-anak ataupun orang tua," tambah Haji Akhsan. Â
"Memangnya berapa jumlah penduduk di desa ini pak," tanya saya.
"Ada sekitar dua ribu orang dan mayoritas Muslim," jawab Haji Akhsan.
Diketahui bahwa di Desa Komodo memang tinggal sekitar 2.000an penduduk, yang umumnya berprofesi sebagai nelayan.
Selain itu, terdapat puluhan penduduk yang berprofesi antara lain sebagai pematung yang dapat memahat patung Komodo dari kayu sebagai cendera mata atau pesanan dekorasi. Â
Kayu yang biasa digunakan adalah kayu hitam sesuai warna asli Komodo. Namun sekarang patung bisa juga dibuat dari kayu waru laut, jati, atau nara. Biasanya kayu dibeli dari luar pulau, karena seluruh Desa Komodo merupakan wilayah konservasi.
"Membangun masjid sebesar itu tentunya membutuhkan biaya besar. Kalau boleh tau, dari mana dananya pak?," tanya seseorang dari kami.
Menjawab pertanyaan tersebut, Haji Akhsan pun menjelaskan bahwa dana pembangunan masjid yang cukup besar. Selain dari gotong royong warga desa sendiri juga terdapat donasi dari berbagai pihak di luar Desa Komodo, termasuk para wisatawan yang berkunjung ke Desa Komodo. (Catatan: dari Google diketahui bahwa salah satu pihak luar yang ikut menyumbang dana untuk pembangunan masjid adalah PT Pegadaian yang menyumbang dana senilai 100 juta rupiah pada 8 Juni 2023).