Mohon tunggu...
Ariana Rahmi
Ariana Rahmi Mohon Tunggu... Jurnalis - Citizen Journalist

Pemerhati Isu-Isu Ekonomi

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Akuntan di Balik Fraud Jiwasraya dan Melesetnya Penerimaan Pajak

8 Januari 2020   14:16 Diperbarui: 16 Januari 2020   19:02 483
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dini Novita Sari, Pengamat sosial dan Ekonomi Keuangan telah memantik diskusi tentang peran para akuntan di balik krisis-krisis keuangan termasuk fraud Jiwasraya 2020.  (Baca tulisannya di sini)


Saya sangat setuju dengan substansi isi tulisan itu dan hendaknya dijadikan introspeksi oleh para praktisi akutansi.Para akuntan jangan balik badan dan hendaknya mulai ikut bertanggungjawab. Sebesar itu professional fee-nya, seberat itu pula tanggungjawab harus dipikul.


Sumber: thesouthafrican.com
Sumber: thesouthafrican.com
Dalam Setiap Fraud Ada Akuntan Bermasalah

Harap dicatat dalam setiap kasus krisis keuangan dunia, termasuk di sini, selalu ada peran akuntan.  Bahkan di Inggris kini ada gerakan untuk membatasi peran KAP The Big Four sekaligus mereformasi cara kerja akuntansi yang semakin jadul.
Metode double entry yang dikembangkan Luca Bartolomeo de Pacioli ini sudah berusia lebih dari 4 abad, dan mulai tak mampu menampung aspek-aspek kekinian.

Hampir tak ada ilmu lain yang buku panduannya masih dipakai mahasiswa sejak 40-50 tahun yang silam selain akutansi.  Padahal dunia mulai meninggalkan tatacara bisnis masa lalu. Sudah bukunya jadul, banyak akuntan yang malas mendalami sistem baru karena berlindung dalam PSAK yang diatur orang-orang lama pula.

Harap dicatat dalam setiap Krisis keuangan yang berdampak luas di sini 1998 maupun di AS tahun 2008, juga dipicu oleh akuntan-akuntan bandel baik pada titik KAP, konsultan pajak maupun birokrasi dan otoritas pengawasnya.
Kini beban kita rangkap, ada akuntan di balik fraud Jiwasraya yang berpotensi menimbulkan krisis besar, dan ada akuntan di balik shortfall penerimaan pajak yang berakibat negri ini harus menerbitkan surat utang tambahan untuk menambal defisit APBN.

Auditor itu Bukan Wartawan Foto Candid

Saya sering mendengar para akuntan berdalih bahwa selama mengaudit mereka hanyalah bekerja bak wartawan foto. Jadi pekerjaannya hanya sekedar memotret secara candid.

Tentu saja tidak demikian! Kita semua tahu,  Mereka adalah juru potret salon dengan keahlian photo editing dan photoshop.  
Akuntan adalah arsitek yang dilengkapi ilmu sipil sehingga saran-sarannya bahkan perintahnya, bisa memindahkan pos pencatatan keuangan yang sekaligus bisa berdampak menyembunyikan persoalan. Itulah uniknya metode double entry: Ditahan di sini (atau saat ini) selalu muncul di tempat atau waktu lain.

Jadi ada moral judgment yang bisa mengakumulasi persoalan atau dipakai untuk mencegah persoalan menjadi lebih besar.
Dengan begitu,  jasa akutansi bisa membuat perusahaan untung besar atau normal, atau bahkan rugi, bayar pajak besar atau kecil, menunda kerugian atau menanggung di depan, termasuk menentukan nasib penabung pada perbankan, pembeli jasa keuangan maupun para investor. Dan pada ujungnya kalau didapat yang bandel, tentu bisa berdampak sistemik.

Termasuk Shortfall Penerimaan Pajak
Sekarang terungkap satu isue lagi. Yaitu shortfall atau tak tercapainya penerimaan pajak yang tahun ini berkisar 20-30% dari target, Rp 259 triliun.  Dan shortfall ini masih akan terus membesar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun