"Pembunuhnya selalu mengambil otak korban. Kira-kira untuk apa, ya?"
Aku menghendikkan bahu acuh. Enggan membahas lagi kasus ini. Ku langkahkan kakiku kedalam rumah Tuan Samad. Menata seni kacaku didalam. Dan tepat saat aku keluar ada keributan dihalaman rumah Tuan Samad. Ku dengar mereka mencari ku.
"Ada apa?" Ku lihat satu-persatu raut wajah mereka. Semua terlihat sama. Ada amarah di sorot mata mereka.
"Tjahya! Manusia biadab! Keji! Tidak manusiawi!" Kalimat macam apa ini? Aku?
"Kami sudah tau. Selama ini kaulah pembunuh keji yang mengambil otak korban." Sahut salah satu dari mereka.
Aku tersenyum tenang. "Atas dasar apa kalian menuduh saya seperti ini?"
"Ini!" Â Salah satu dari mereka mengacungkan tangan. Menunjukkan sebuah kalung dengan seni kaca kecil berbentuk lingkaran dengan huruf TJ ditengah sebagai gantungan.
Aku meraba leherku sejenak. Benar. Kalung itu milikku.
"Tjahya. Itu benar kalungmu. Apa benar kau yang melakukannya?" Djapar menatapku tajam. Mencari sebuah kebenaran. Aku yakin ada harapan bahwa aku berkata tidak di sorot matanya. Membuatku tersenyum sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala membenarkan. Memang benar. Selama ini akulah yang melakukannya.
"Benar. Memang aku yang melakukannya." Jelas pengakuan ini membuat mereka terkejut.
"Bedebah!" Hujat mereka kepadaku. Kulihat Djapar. Ada sorot kecewa di sana.