Belum sampai pria gempal itu menghabisi nyawa pemuda dihadapannya, suara Ulil membuat pandangan mereka teralih padaku. Ku lihat sejenak Ulil. Mencari tahu apa yang membuatnya bersuara. Lalu ku lihat lagi Sumber keributan yang mendadak hening. Ku tunjukkan seulas senyum kepada mereka. Hanya sebagai formalitas jika dua orang atau lebih tidak sengaja bertemu di jalan. Jika kalian bertanya apakah aku takut? Jawabannya sangat sederhana. Tidak. Kalian tau kenapa? Karena, Aku mengenal salah satu dari tiga pria gempal itu. Namanya Djapar. Salah satu murid kakek - ketika kakek Masih hidup tentunya. Usianya lima tahun lebih tua dariku. Dan ku tahu sekarang dia bekerja kepada Tuan Samad. Sebagai jagal kepercayaan Tuan Samad. Tangan kanan yang memiliki anak buah. Dia juga yang memberitahukan Tuan Samad tentang karya kacaku. Aku harus berterima kasih kepada Djapar.
"Tjahja!" Sapanya. Benar saja, aku tidak salah lihat. Djapar menyapaku.
"Hai." Balasku ramah.
"Mau kemana?"
"Kediaman keluarga Samad. Antar barang."
"Tunggu sebentar. Biar ku antar."
Ku jelaskan pada kalian. Ini bukan hanya sekedar basa-basi. Menurutku, ini sebuah paksaan. Karena, semakin kuat aku menolak untuk ia antar, semakin kuat pula tekatnya untuk mengantar.Â
Minggu lepas kutanyakan alasan dia untuk selalu mengantarku pergi ketika berpapasan. Tidak hanya itu. Ketika aku sedang ada didalam sebuah masalah Djapar selalu ada untuk membantu. Dia juga selalu tidak enak hati jika dia tidak dapat membantuku. Jawabannya singkat saja. Untuk rasa terima kasih pada mendiang kakekku, katanya.
Djapar terlihat berbincang sejenak dengan dua orang temannya. Membiarkan mereka menyeret pemuda tak berdaya itu. Mungkin akan dibebaskan. Atau, bahkan di bumi hanguskan. Kasihan. Bau anyir tercium saat posisiku kurang dari dua meter dengan Djapar. Sepertinya dia tidak mandi dengan air pagi ini. Melainkan dengan darah segar milik pemuda tadi.
"Berapa banyak kaca yang Tuan Samad pesan?" Djapar membuka suara. Nadanya seolah tidak terjadi apapun dan seolah aku tidak melihat apapun. Padahal, adegan menyeramkan baru saja terjadi.
"Cukup banyak. Hari ini kubawakan empat. Masing-masing dua di setiap karung goni ini. Masih ada hampir satu lusin setengah di rumah. Mungkin esok akan ku antar."