Mohon tunggu...
Angga
Angga Mohon Tunggu... Freelancer - Content Writer

Seorang penulis yang suka dengan dunia teknologi

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Memahami Peran Konten dalam Bisnis, Membongkar Anggapan yang Kerap Disalahpahami

3 Januari 2024   12:15 Diperbarui: 3 Januari 2024   15:24 437
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Orang yang Sedang Mencari Inspirasi Konten (sumber: pexels.com)

Ada pendapat umum bahwa semakin banyak platform yang digunakan, semakin luas pula jangkauan kita terhadap audiens. Namun seperti yang telah disinggung sebelumnya, setiap platform memiliki karakteristiknya masing-masing. 

Karakteristik penggunanya juga berbeda-beda. Jika ingin menggunakan beberapa platform, pertanyaan pertamanya adalah, apakah target audiens yang ingin dijangkau benar-benar aktif di platform tersebut?

Karakteristik platform yang berbeda-beda punya beberapa implikasi. Misalnya terkait jenis konten dan format konten yang dipublikasikan di platform tersebut. Bahkan untuk jenis konten teks saja ada platform yang lebih cocok untuk teks pendek, namun ada juga yang lebih mendukung konten yang lebih panjang seperti artikel atau cerita. Karakter pengguna yang berbeda juga mempengaruhi topik konten dan gaya penyampaian yang sesuai di setiap platform.

Karena setiap platform punya karakter yang unik, treatment-nya juga harus disesuaikan. Untuk setiap platform, sebaiknya gunakan strategi yang berbeda, atau minimal sesuaikan dengan karakter dan preferensi penggunanya.

Agar SEO Friendly, Konten Artikel Harus Memperhatikan Keyword Density

Agar artikel lebih SEO friendly dan mudah dicari menggunakan mesin pencari seperti Google, artikel tersebut harus memuat keyword tertentu. Keyword apa yang sebaiknya digunakan? Jawabannya tergantung pada beberapa hal, seperti apa yang dibahas dalam artikel tersebut, siapa target audiensnya, hingga goal atau tujuan yang ingin dicapai melalui konten tersebut.

Untuk menemukan keyword yang cocok, perlu riset terlebih dahulu. Ini perlu dilakukan agar artikel tersebut tidak sampai salah alamat atau kurang perform. Karena jika sampai salah keyword, artikel bagus pun tidak akan bisa menjangkau orang yang tepat dan memaksimalkan potensinya.

Keyword ini nantinya perlu dimasukkan ke dalam artikel secara merata. Menurut beberapa pakar, keyword tersebut harus diulang beberapa kali untuk meyakinkan mesin pencari bahwa artikel tersebut relevan dengan keyword yang dimaksud. Inilah yang disebut dengan keyword density. 

Keyword density ini biasanya antara 1-3%. Jadi untuk artikel sepanjang 1000 kata, maka keyword yang digunakan harus diulang minimal sebanyak 1% dari 1000 kata, yakni 10 kali.

Akan tetapi, konsep ini sebenarnya merupakan konsep lama dan tidak lagi efektif untuk mendongkrak SEO. Sejauh ini, algoritma mesin pencari Google sudah berubah dan tidak lagi menekankan jumlah pengulangan keyword (keyword density) sebagai tolak ukur relevansi sebuah artikel dengan keyword tertentu.

Meski begitu, peran keyword masih tetap penting. Hanya saja, pemanfaatannya sedikit berbeda.

Perlu diingat, algoritma mesin pencari dibuat untuk membantu pengguna menemukan konten yang relevan. Jadi saat membuat artikel dan memasukkan keyword ke dalamnya, tujuannya harus selaras dengan hal tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun