Kasus korupsi bansos memang sudah lama bergulir, terhitung mulai Desember 2020 kemarin Menteri Sosial Juliari Batubara ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas tuduhan korupsi bantuan sosial untuk masyarakat tidak mampu.
Setelah terbukti bersalah, kemarahan masyarakat pun tidak terbendung, cacian pun datang dari mana-mana, hastag Juliari Batubara tranding di twitter, belum lagi instagram, bahkan sampai dibuatkan meme kocak.
Tidak bisa dipungkiri sepertinya kasus korupsi di Indonesia sepertinya sudah mendarah daging, dari pejabat desa sampai pusat tidak luput dengan kasus korupsi.
Kembali lagi ke kasus yang menyeret mantan Menteri Sosial Juliari Batubara, tepatnya pada saat persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (09/09/21), ada kejadian yang cukup menarik, yaitu momen ketika pembacaan pledoi, Juliari Batubara selaku terdakwa memohon pada hakim agar bisa dibebaskan dari dakwaannya.
Tentu itu adalah permintaan yang sangat konyol dan tidak manusiawi, bagaimana mungkin seorang koruptor dana sosial bisa mengatakan permohonan bebas, sedangkan ia telah mengambil hak rakyat Indonesia, terlebih lagi saat pandemi seperti ini, dimana banyak orang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Permohonan ini bisa menjadi tolak ukur kita sebagai masyarakat tentang bagaimana elektabilitas dan keberpihakan seorang hakim dalam mengambil keputusan, memilih suatu keadilan, atau hanya takut akan kekuasaan.
Menurut penyidik KPK, Juliari Batubara diduga telah menikmati dana sebesar 15,1 miliar untuk kepentingan pribadinya, dana sebesar itu merupakan jumlah yang fantastis.
Diawali dengan pemotongan dana bansos  sebesar 10 ribu rupiah, jumlah ini tidaklah kecil, mengingat dana ini dihitung dalam skala seluruh Indonesia, tentu bisa kita bayangkan sendiri 10 ribu dikalikan seluruh masyarakat Indonesia, belum lagi aliran dana dari pihak luar.
Memang, semenjak Juliari Batubara terjerat kasus korupsi, semua tindak tanduknya bersama keluarganya dinilai buruk oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.Â
Hal ini terjadi karena anggapan masyarakat bahwa semua anggota keluarga Juliari tentu menikmati harta hasil korupsi ini. Juliari Batubara mengaku sekarang ini sering di maki lewat media sosial oleh warganet.
Pada akhirnya, ia dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan denda sebesar 14,59 miliar oleh Majelis Hakim Peradilan Tipikor Jakarta.
Dari kasus diatas, bisa kita ambil pelajaran bahwa selain jabatan yang tinggi, perlu diimbangi dengan moral yang tinggi pula, agar tidak termakan tindakan tidak terpuji, yaitu menyelewengkan dana yang bukan haknya. Disisi lain, kasus ini bisa juga menjadi tolak ukur keadilan bagi koruptor di Indonesia yang dinilai masih terlalu berpihak dan terkesan terlalu ringan dalam hukuman.
Dimana para koruptor harus dihukum seadil-adilnya sesuai apa yang telah mereka perbuat sesuai ketentuan yang berlaku tanpa ada pihak yang mengancam atau terancam oleh kekuasaan, maka dari itu butuh hakim yang berani membela kebenaran meski nyawa jadi taruhan, demi bangsa dan negara Indonesia yang bersih.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H