Mohon tunggu...
Amir Mahmud Hatami
Amir Mahmud Hatami Mohon Tunggu... Lainnya - Aku Berpikir, Maka Aku Kepikiran

Menemukan sebelah sepatu kaca di jalanan. Siapa tahu, salah satu dari kalian kehilangan!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Undang-Undang Buatan Ayah

20 Desember 2021   23:07 Diperbarui: 21 Desember 2021   00:00 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak ketinggalan, anak-anak muda Tanton kedapatan tengah asyik berkumpul dalam sebuah arena diskusi di sekitar taman yang tidak jauh dari Tugu Selamat Datang. Kondisi mereka terlampau khusyuk; seluruhnya tenggelam dalam pembahasan masa depan demokrasi Omnipotensia. Tanton jelas jauh berbeda dengan kondisi Barbiton yang serba kaku.   

Berbeda dari kebanyakan orang yang pernah mengunjungi Tanton, kesan pertama Rigi saat menginjakkan kaki di kota itu malah tertegun, bukan kagum. Kota yang sering digembar-gemborkan paling artistik tersebut, nyatanya berhasil membuat orang nomor wahid di DKSB itu dongkol. Baginya, kebanyakan orang telah sejak lama bersekutu dengan pandangan yang keliru, salah satunya Elisha.

"Apa-apaan ini, bagaimana bisa pemerintah dan petugas kepolisian begitu kompak membiarkan warganya mengotori tembok dengan lukisan-lukisan tak bermoral." 

Muak melihat kondisi kota yang semrawut, Rigi memutuskan untuk bertemu Virgil, rekan sederajatnya di kepolisian Omnipotensia. Sesama pemimpin, ia tidak mau tinggal diam melihat rekannya membelot, sebab membiarkan kota Tanton menjadi sarang kriminil. Orang-orang seperti Virgil tak dapat diampuni olehnya, rekannya itu sudah membahayakan negara dengan mengacuhkan Undang-undang, demi merawat kebobrokan warga. 

Gawai jadul merk Noknia buatan Jepun pun segera diraihnya dari saku kiri jaket. Tangan besarnya tampak gemetar saat menggenggam sembari menekan-nekan tombol karet sesuai kode alamat telepon rekannya itu. Ia tak sabar ingin mencemooh Virgil, kalau perlu mengakhiri karir Virgil, lalu menyeretnya kedalam jeruji besi. 

"Hallo, Virgil, kau tak ubahnya seorang pengkhianat yang berlindung dalam balutan seragam."

"Rigi sahabatku, apa maksudmu menuduhku di pagi yang cerah ini?" dengan nada lirih.

"Berhentilah berkata seperti pewarta ramalan cuaca, Virgil! Saat ini, aku berada di kota mu yang tampak menjijikkan." sergahnya.

"Aku harap engkau berhenti menggerutu, lekas tanyakan saja dimana alamat kantorku!"

"Kebetulan, aku baru saja membeli kopi Brasil kualitas terbaik." bujuk Virgil.

"Keparat kau, Virgil. Berani-beraninya kau menyumpal mulutku dengan secangkir kopi. Berikan alamatmu sekarang!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun