Stanley Hoffmann menyatakan bahwa ilmu Hubungan Internasional sebagai subjek akademis terutama memperhatikan hubungan politik antarnegara. Adanya kata "terutama" dalam definisi arti sempit ini menunjukkan bahwa di samping negara ada juga pelaku internasional, transnasional, dan supranasional yang lain seperti PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), UE (Uni Eropa), MNC (Multi National Corporation), LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), IGOs (Inter-Governmental Organizations), INGOs (Inter Non-Governmental Organizations) dan sebagainya. Hubungan Internasional akan berkaitan dengan segala bentuk interaksi antara masyarakat negara-negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun warga negara. Hubungan Internasional mencakup pengkajian terhadap politik luar negeri dan politik internasional, dan meliputi segala segi hubungan di antara berbagai negara di dunia.
4. Jadi, bagaimana eksistensi serta peranan Filsafat dalam Studi Hubungan Internasional?Â
Dalam dunia filsafat terdapat teori-teori serta konsep yang tercipta guna membantu mengembangkan ilmu pengetahuan agar benar-benar memiliki hasil pemikiran yang terintegrasi dan masuk dalam struktur disiplin. Ilmu Hubungan Internasional merupakan salah satu bidang studi yang turut melibatkan Filsafat dalam mencari dan menjelaskan pendasaran secara terbuka, kritis, dan logis tentang bagaimana cara kita mengatasi masalah yang ada dalam suatu negara dengan berpikir secara radikal (berpikir sampai pada akarnya).
Ilmu filsafat juga mampu membuka pandangan yang luas, sehingga dapat membendung egoisme dan egosentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri). Sehingga dengan adanya filsafat dalam Hubungan Internasional ini tentu akan membantu kita dalam memperoleh hasil yang akurat guna mempertahankan kejelasan analitis dan sebagai cara untuk menggambarkan aspek-aspek yang sangat spesifik dalam bidang Hubungan Internasional. Filsafat juga berperan dalam menemukan jawaban tidak mutlak yang berlaku sepanjang masa, artinya jawaban dapat berubah karena perubahan atau mengikuti perkembangan zaman dan IPTEK, memberikan kita kemudahan dalam menganalisis mengemukakan ide yang jelas serta rasional.
Filsafat merupakan komponen penting dalam kepemimpinan
Maksudnya ia dapat digunakan untuk menggugat, mempertanyakan, mengubah dan mengajukan definisi ulang tentang konsep-konsep dan praktek yang telah lama dilakukan di suatu negara. Konsep-konsep tersebut, seperti konsep negara, konsep kekuasaan, dan konsep otoritas. Ketika aktor pemerintah atau nonpemerintah melihat input ke dalam proses negara dan pemerintahan, filsafat menjadi jembatan kepentingan untuk melihat masalah dari berbagai sisi dan menyebarkan nilai dan pencapaian teknologi ke dalam kehidupan.  Hadirnya filsafat dapat membantu mengatur waktu,  diri, serta pola pikir dalam menata kehidupan yang terus berubah. Dalam berfilsafat tentu akan membantu kita untuk berpikir kritis, kreatif dan independen selain itu memudahkan seseorang dalam proses mencari suatu jawaban dari suatu permasalahan dari melihat berbagai sudut pandang yang berbeda.  Meskipun dalam proses berfilsafat sendiri terkadang memberikan banyak pro-kontra dalam menelaah suatu permasalahan, namun harus diakui bahwa  berpikir dan berdiskusi ini merupakan salah satu metode filsafat dalam menemukan suatu jawaban atas permasalahan merupakan bagian dari cara hidup yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Oleh sebabnya, mengaplikasikan filsafat pada Hubungan Internasional tentu akan membantu membentuk karakter seseorang untuk dapat membangun hubungan dalam lingkup kerja serta dalam meningkatkan karakter kinerja yang lebih baik.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H