Bagi konsumen yang membeli barang dengan partai kecil, atau hanya membeli minuman, snack, atau barang lainnya yang bisa di "tenteng" dengan tangan, mereka tidak mau diberikan kantong plastik, karena akan dikenakan Rp 200,- per kantong.Â
Saya sendiri, pada saat mampir membeli air minum dan roti untuk persediaan dimobil disalah satu gerai ritel modern, sebelum kasir mengentri barang yang kita beli, saya dahului, "Dik saya tidak pakai kantong plastik, saya bawak saja langsung ke mobil".Â
Anehnya, terkadang belum sempat kita menyampaikan bahwa kita tidak pakai kantong plastik, si kasir buru-buru sudah mengentri harga kantong plastik di strup yang akan di "print" nya tersebut. Ini jelas "mengangkangi" hak-hak konsumen. Untuk memberi pelajaran kepada kasir, saya hanya berujuar, "Konfirmasikan dulu dengan konsumen, jangan langsung entri."
Bila dismimak penerapan kantong plastik berbayar tersebut tidak memberi dampak  "pengurangan" penggunaan kantong plastik, yang terjadi yakni berapa banyak konsumen berbelanja, sebanyak itu pula kantong plastik yang digunakan/keluar.Â
Untuk mensolusi persoalan yang satu ini, pihak yang berkompeten, termasuk Dinas Perdagangan,  terlebih lagi  Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) harus duduk satu meja "bagaimana sebiknya".
Agar tidak membebani konsumen lebih baik di "stop" saja, sembari menemukan tehnologi yang bisa menyulap sampah kantong plastik tersebut menjadi sesuatu yang bernilai sehingga tidak mengancam lingkungan. Langkah ini penting, agar kantong plastik berbayar  tidak  memberi peluang bagi mereka  untuk meraup keuntungan  yang berlipat dan tidak merugikan  serta tidak merampas hak konsumen. Selamat Berjuang!!!!!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI