"Kita harus sering bicara soal ini, apa kamu keberatan?", tanya Bimo santun.
"Ya tentu , harus Bimo, anytime". Jawabku.
"Anytime, I'm here for you, lady", ujarnya seraya menepuk bahuku.Â
Tebakan Bimo betul semua. Mulai dari soal cemburu itu tidak dewasa. Terlebih , bagiku seorang introvert. Kesulitanku adalah, memulai pembicaraan. Pekerjaan ku tidak menyulitkan. Namun, memulai pertemanan itu yang menjadi hal tersulit. Membaur dengan kerumuman orang-orang adalah hal yang menakutkan bagiku. Aku memang mencari teman. Tetapi, ternyata Leiticia, si seniman keren itu , bukan pilihan terbaik sebagai teman.Â
Permainan apa yang ia sedang mainkan?. David bilang, ia tidak mencium Leiticia ketika mereka menghabiskan waktu di Pulau Weh. Namun, Leiticia seperti membuat permainan dengan teman bulenya. Itulah sebabnya , David melarangku agar tidak sering bertemu dengan Leiticia.Â
Manda, mulailah terbuka sebagai personal. Beranilah membuka diri dan menghadapi lautan manusia. Di antara lautan manusia, pasti ada orang -orang terbaik untuk kamu jadikan inspirasi dan teman terbaik. Gak peduli berapa jumlahnya. Perluas pergaulan. Menghadapi penggemar cowok kamu yang public figure perlu strategi jitu.Â
Jangan tunjukkan cemburu dan ketidakseimbangan emosi. Kamu liat sendiri bagaimana David menjawab pertanyaan jebakan seperti ;Â
siapa calonnya? , dia menjawab dengan lihai, senyumin aja deh. Dia mengunci rapat rahasianya dengan senyuman.
Bagaimana rasanya jadi public figure?. Dia gak jawab. Hanya tertawa. Tertawa yang membuat kita enggan bertanya lagi.Â
Emosi yang tertata rapih dan ramah. Itu gestur yang bisa kamu pelajari.
Kata - kata Bimo yang bukan saja terngiang di telingaku. Tapi , aku harus mulai belajar menghadapi sebuah perubahan yang lain. Siang itu, di sisi jalan SCBD Sudirman. Aku melihat banyak lalu lalang pekerja kantoran yang sibuk mengejar target pekerjaan mereka. Di tempat inilah , aku bertemu Bimo. Seseorang yang menajubkan, memberikan petuah terbaik, menurutku. Sepertinya tidak salah jika aku percaya dengannya, kan?.