April sepertinya adalah waktu yang terbaik. Karena kalau di pesisir pantai pasti sudah hangat, tidak perlu berjaket tebal. Laut masih belum bisa direnangi karena airnya masih dingin berkisar 20-23 derajat saja.Â
Di Daerah seperti Chefchaouen, Fez, Rabat, Casablanca, Marrakesh, Merzouga dan Mhamid cuaca sangat sempurna untuk siang hari. Sudah seperti musim panas. Tidak perlu pake jaket tidak perlu pake baju tebal. Tapi kalau lepas tengah malam masih akan terasa dingin banget jadi saya sarankan tetap bawa baju tebal ya. Kalau tidak, di hotelpun pasti menyediakan selimut ambal tebal.
Bulan Mei-juni, Cuaca pasti sudah panas dimana mana sama panasnya seperti di Indonesia, tapi dari Marakesh sampai ke Padang gurun sana panas sudah mulai menyengat banget. Bahkan untuk bulan Juni sudah mulai sedikit yang mau ke padang gurun karena orang biasanya sudah tidak tahan akan panasnya yang menyengat bagai di neraka.
Dari bulan Juli sampai September aktivitas turis ke gurun sudah tidak ada. Tidak ada yang mau kesana. Orang lokal bahkan termasuk suku Nomad yang berada disana pun semua memilih tinggal di rumah saja karena tidak kuat akan panasnya padang gurun yang panas.Â
Biasanya mereka akan pergi kedesa atau berkelana ke kota mencari pekerjaan sementara atau mengemis di kota. Mereka akan balik lagi ke gurun setelah musim berganti dan panas mereda.
Makanan, Makan apa saja di Maroko?Â
Makanan yang paling terkenal di Maroko adalah Tajin. Tajin itu ada dimana mana. Ada Tajin daging dan ada juga Tajin vegetarian. Saya terus terang tidak terlalu menyukai Tajin, di Maroko saya memakan Tajin cuma 3x stelah itu enek dan gak mau lagi karena kurang cocok dengan bau jinten dan kunyit nya mereka. Kunyit yang mereka pake tidak sama dengan kunyitnya kita.
Makanan terkenal yang agak cocok di lidah saya adalah Kefta. Kefta ini adalah daging giling (bisa juga cuma dipotong2) yang diberi bumbu khas maroko dibuat bulat spt bakso lalu di tusuk dan dibakar seperti sate, tapi kalo makan ini tiap hari juga bosan kaan...
Couscous adalah makanan terkenal lainnya. Tapi couscous adalah makanan tradisional yang mengandung unsur tradisi ke agamaan. Couscous tidak dimakan setiap hari dan tidak dijual dimana-mana tetapi couscous dimakan pada hari besar agama atau tiap hari Jum'at dimana hari Jum'at adalah hari istirahat dan hari penting untuk keluarga berkumpul dengan keluarga atau teman2nya bagi orang Maroko. Biasanya masing2 keluarga akan memasak couscous dirumahnya dan kalo kamu di undang makan berarti termasuk beruntung karena bisa di ajak merasakan masakan keluarga ini.
Terus terang 14 hari travelling di Maroko membuat saya cukup kesulitan soal makanan. Menurut saya type makanannya kurang variatif, kebanyakan daging dan sedikit sayur. Kalaupun ada, masaknya juga ya gitu2 aja jadi cepat bosan. Aaahh....maklum daerah padang gersang pikir saya, jadi mana mungkin banyak sayurnya?
Hal yang baik kalau bisa, bawalah bekal mu sendiri dari negara mu. Bawa Indomie itu sesuatu banget disini. Kalau untuk saya sendiri, setiap kali travelling saya selalu membawa Salami dan Ham, pisau kecil, butter dan kopi mix dan teh dari Indonesia. Jadi kalau tidak suka makan diluar saya tinggal beli roti dan bikin sendiri sandwich saya.Â