"Tidak ada seorangpun yang terlahir membenci orang lain karena warna kulitnya, latar belakangnya, atau agamanya. Orang-orang harus belajar untuk membenci, dan jika mereka bisa belajar untuk membenci, mereka juga bisa diajarkan untuk mencintai, karena cinta lebih alami bagi hati manusia daripada kebalikannya." - Nelson Mandela.
Keping Pertama: Persatuan
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki konsekuensi tersendiri; Keberagaman dan Perbedaan.Â
Bukan lagi menjadi sebuah pilihan bagi masyarakat untuk memutuskan, tetapi bagian dari kewajiban untuk mempertahankan ibu pertiwi. Berabad-abad penuh kekelaman menerjang tanah air, hingga akhirnya mendapatkan akhir yang berbahagia. Semua itu terjadi bukan sekedar sebuah kebetulan; tepatnya kebijaksanaan para pejuang yang melampaui batas perbedaan.Â
Bung Karno pernah mengungkapkan, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri." Pernyataan ini mencerminkan ironi yang dihadapi saat ini. Masalah yang seharusnya menjadi bagian dari identitas bangsa, layaknya pisau bermata dua, malah merusak identitas itu sendiri. Saling menjatuhkan dan merendahkan satu sama lain seakan menjadi bagian dari kompetisi untuk meraih podium tertinggi, meskipun keuntungan yang diperoleh tidak membawa manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.
Kini, bangsa ini dihadapkan pada pertanyaan penting: ke mana arah burung Garuda yang tiada lelah memegang semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" dengan kedua kakinya? Jika prinsip ini tidak diterapkan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari, apakah akan ditunggu hingga semuanya terlambat? Tentu saja, kita tidak bisa tinggal diam dan membiarkan situasi ini terus berlanjut.
Â
"Pemuda adalah harapan bangsa. Jadilah pemuda yang kreatif, inovatif, dan selalu haus akan ilmu pengetahuan." - B.J. Habibie
Kanisian: Masa Depan Bangsa
Masa depan bangsa digadang-gadang berada di tangan para pemuda. Arah dan tujuan yang telah dibentuk selama bertahun-tahun lamanya akan selalu berpindah tangan, dan besar harapan agar generasi muda dapat melanjutkan warisan baik dari para sesepuh bangsa. Tugas kita adalah menjalankan hal-hal yang baik dan menghapus segala bentuk kejahatan yang merusak. Dalam konteks ini, pemuda memiliki peranan penting sebagai agen perubahan yang dapat mengarahkan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Bangsa yang terlahir dari perbedaan ini memiliki kekuatan yang telah terbukti selama masa kolonialisme: persatuan dan kesatuan di atas diversitas latar belakang. Para pemuda, yang dinilai memiliki keberanian dan daya juang yang tinggi, berperan krusial dalam menjaga semangat persatuan ini. Kilas balik ke tahun 1998, tepatnya pergerakan dan aksi demonstrasi yang lahir dari semangat mahasiswa.Â
Mereka melayangkan ketidakpuasan dan memperjuangkan hak rakyat dengan berani, terjun langsung ke lapangan bersama demi satu kepentingan yang sama: membebaskan masyarakat dari kesengsaraan dan ketidakadilan. Dengan semangat yang sama, tidaklah mustahil bagi pemuda zaman ini untuk menyuarakan kembali semangat persatuan yang telah menjadi fondasi bangsa ini.
Saya, bersama rekan-rekan sejawat angkatan 25 dari Kolese Kanisius, merasa terhormat dapat mengemban tugas sebagai bagian dari masa depan bangsa ini. Selama kami, para kanisian, menjalani pendidikan di Kolese Kanisius, kami dibina dan ditempa melalui berbagai macam kegiatan yang dirancang untuk membentuk kami menjadi pemimpin.Â
Tradisi sekolah-sekolah di bawah naungan Serikat Yesus meyakini bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu melayani dengan sepenuh hati. Dengan kata lain, menjadi seorang pemimpin berarti bersedia untuk menempatkan diri secara nyata dan konkrit dalam menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Sebagai bagian dari Keluarga Besar Kolese Kanisius, kami menggarisbawahi bahwa persatuan adalah kunci untuk mencapai kesatuan, terutama dalam konteks bangsa kita yang begitu plural. Untuk memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan sosial yang ada, Kolese Kanisius membentuk sebuah kegiatan bertajuk toleransi, yaitu ekskursi agama.Â
Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin perjumpaan dan silaturahmi antaragama. Dalam rangka itu, kami, para kanisian yang mayoritas beragama kristiani melakukan kunjungan silaturahmi ke berbagai pondok pesantren di sekitar daerah Jawa Barat dan Banten. Melalui kegiatan ini, kami hendak membawa pesan toleransi di atas segala batas, serta membangun jembatan komunikasi antar umat beragama demi terciptanya persatuan di masyarakat.
"Dengan pemahaman akan perbedaan, kita akan menjadi peka, merasa penting adanya tenggang rasa, toleransi, dan menghargai perbedaan." - Unknown
Ekskursi Agama: Ponpes Al-Falah Pandeglang
Saya bersama-sama dengan kelompok berangkat menuju Pandeglang, sebuah kota di ujung Provinsi Banten. Destinasi kami, Pondok Pesantren Al-Falah.Â
Kami datang dengan perasaan yang campur aduk, semangat, cemas, dan lain-lain yang menggoyahkan selama di perjalanan. Akan tetapi, ketangguhan kami mengalahkan segalanya.Â
Selama tiga hari dua malam, kami menjalani sebuah perjalanan yang singkat namun sangat berarti. Momen ini seakan telah dinantikan oleh kami semua, karena berhasil merajut kenangan mendalam dalam diri kami.
Kami memulai perjalanan ini dari dua titik awal yang berbeda, namun tidak ada yang mustahil untuk bertemu pada satu tujuan yang sama: persatuan. Berasal dari latar belakang dan agama yang berbeda, kami sepakat untuk tidak membenci persatuan.Â
Perjumpaan ini membuka semua pagar yang membatasi antara kami, para kanisian, dengan para santri Al-Falah. Di pertemuan pertama, timbul antusiasme untuk saling mengenal, terlebih karena ini adalah kali pertama bagi kedua pihak. Bahkan sempat kami bermain bola tanpa alas kaki di ladang hingga langit berubah gelap dan adzan Maghrib mulai berkumandang.
Tanpa memerlukan waktu lama, kami larut dalam dinamika satu sama lain. Pembicaraan singkat berkembang menjadi dialog yang mendalam hingga waktu berlalu begitu cepat dan kami merasa seolah sudah berteman cukup lama. Dalam waktu singkat, kami telah saling mengenal dan menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang.Â
Kami merasakan kenyamanan luar biasa saat tinggal bersama para santri, yang menerima dan menyambut kami dengan tangan terbuka lebar. Pak Haji dan Pak Ustadz selalu menunjukkan sosok pemuka agama yang kami hormati karena kebijaksanaan mereka. Mereka mengajarkan kami tentang agama Islam dan ajaran-ajarannya dengan cara yang sangat terbuka, tanpa menyinggung perasaan kami. Hal serupa juga terjadi pada para santri yang senantiasa ingin tahu lebih banyak tentang agama kami.
Menjadi seorang santri memberikan wawasan baru bagi kami semua. Dari kehidupan para santri hingga pengetahuan lebih dalam tentang agama Islam, pengalaman ini sangat menarik, terutama bagi saya yang berasal dari keluarga dengan latar belakang yang cukup beragam. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan kami, tetapi juga memperkuat rasa persatuan di antara kami, menjadikan perjalanan ini sebagai momen berharga dalam hidup masing-masing dari kami.
Di penghujung perjalanan, saya dan teman-teman Kanisian melakukan refleksi bersama tentang apa yang telah kami alami. Diskusi ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi segala dinamika yang telah kami jalani selama 2 malam 2 hari itu. .Â
Kami menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya hubungan antar sesama. Sekalipun kami memiliki latar belakang dan kehidupan yang dikata cukup berbeda, apa yang telah kami alami menghapus segala 'perbedaan' diantara kami. Kami hidup bersama dan menjalankan semua aktivitas bersama-sama tanpa memandang perbedaan itu sebagai sebuah halangan. Rasa syukur kami tidak bisa diungkap melalui kata-kata yang menunjukan betapa bahagianya kami selama di Pondok Pesantren Al-Falah.Â
Pada perjumpaan pertama kami dengan Pak Haji, beliau memberikan sambutan yang mengesankan dengan sebuah peringatan yang cukup mengejutkan yaitu agar kami tidak berharap untuk merasakan kebahagiaan selama berada di Al-Falah. Pernyataan tersebut terasa berat, kami menyadari bahwa hal itu mengandung makna yang dalam tentang tantangan dan pembelajaran yang akan kami hadapi. Namun, di hari terakhir kami di sana, harapan untuk merasakan kebahagiaan itu justru semakin kuat, karena kami telah mengalami begitu banyak momen berharga yang membuat kami merasa terikat dengan tempat ini.
"Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya; itu adalah awal dari perjalanan baru yang penuh harapan dan kemungkinan." - Unknown
Akhir Perjalanan dan Harapan Besar
Selama waktu yang singkat itu, Al-Falah telah menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal; ia telah bertransformasi menjadi rumah kedua bagi kami. Setiap pengalaman yang kami lalui---mulai dari interaksi dengan para santri hingga kegiatan bersama---telah menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Rasanya sangat sulit bagi kami untuk meninggalkan tempat ini, mengingat semua hal indah yang telah terjadi dan bagaimana setiap momen telah membentuk ikatan emosional di antara kami. Kami merasa seolah-olah telah menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar, di mana setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan suasana hangat dan penuh kasih.
Akhirnya, saat kami bersiap untuk meninggalkan Al-Falah, perasaan campur aduk melanda hati kami. Di satu sisi, ada rasa sedih karena harus berpisah dari tempat yang telah memberikan banyak pelajaran hidup; di sisi lain, ada rasa syukur atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami untuk belajar dan tumbuh. Kami menyadari bahwa meskipun perjalanan ini berakhir, kenangan dan pelajaran yang kami bawa akan terus hidup dalam diri kami. Dengan semangat baru dan tekad untuk meneruskan nilai-nilai persatuan dan toleransi yang telah kami pelajari, kami siap untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Salam Toleransi!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI