"Maksudnya Nek?" Aku merasa heran atas jawaban Nenek dan menerka-nerka apa yang dimaksudnya.
"Gini Ra. Nenek, Ayahmu, ibumu dan semua keluarga kita itu memang Atheis. Kita tidak percaya Tuhan. Kita semua membangkang terhadap apa yang menjadi keputusanNya. Kita tak mau direndahkan oleh manusia yang Tuhan ciptakan. Karena Nenek dari Nenek moyang kita itu dulu pernah diperintah untuk bersujud pada Adam yang dibuat dari tanah. Sedangkan kita itu dibuat dari api. Masak iya kita mau patuh dan tunduk gitu saja. Sedangkan kita itu makhluk paling mulia."
"Trus Nek?"
"Sejak saat itu, kita bersumpah untuk melakukan apa saja agar manusia lupa sama Tuhan, bahkan kalau bisa, mereka menjadi orang yang tak ber-Tuhan atau Atheis. Jadi, selamat ya untuk Syira. Meskipun ayah dan ibumu pergi entah kemana untuk menjalankan tugasnya agar semua manusia tersesat, Syira justru bisa melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan sebagai generasi pembangkang Tuhan."
"Kita kafir dong Nek?"
"Syira, Mereka lah yang percaya Tuhan yang kafir." Raja Iblis kemudian muncul dari belakangku dan mengucapkan selamat atas naluri alamiahku yang mulai muncul setelah sekian lama Aku mencari jati diri yang sebenarnya.
"Lalu, wanita miskin itu, wanita yang menjadi wadahku Nek?"
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI