Dalam gerakan ini, perempuan tidak hanya diajarkan bagaimana melakukan coding, tetapi juga diajarkan kesetaraan gender dan pentingnya memiliki rasa percaya diri.Â
Menurut Amanda, inti dari Perempuan Inovasi bukan sekadar memberi pelatihan teknis, tetapi juga membangun mentalitas bahwa perempuan mampu menciptakan inovasi yang sama seperti laki-laki.
Menurut literatur dari World Economic Forum, pendidikan teknologi, seperti coding, memainkan peran penting dalam meningkatkan kepercayaan diri perempuan.Â
Dengan keterampilan yang relevan, perempuan tidak hanya dapat terjun ke dunia kerja yang didominasi laki-laki, tetapi juga mampu berinovasi dan menciptakan dampak nyata di komunitas mereka.Â
Coding menjadi "bahasa baru" yang dapat memecahkan hambatan dan membuka peluang karier yang sebelumnya tidak pernah terjangkau.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Menurut data dari Grant Thornton, kurangnya role model dan dominasi laki-laki di posisi kepemimpinan teknologi menjadi salah satu penghambat utama.Â
Di banyak perusahaan teknologi, terutama di level eksekutif, perempuan sering kali dikecualikan dari proses pengambilan keputusan yang penting.
Bias gender dalam proses rekrutmen juga masih menjadi masalah yang nyata. Stereotip tentang kemampuan perempuan dalam teknologi membuat mereka kurang dipertimbangkan untuk peran strategis.Â
Banyak perusahaan yang secara tidak sadar menerapkan standar ganda ketika merekrut perempuan, terutama di bidang teknologi.
Namun, seperti yang dijelaskan oleh literatur dari WinBuzzer, mengatasi stereotip ini membutuhkan pendekatan holistik.Â