Kekerasan fisik hingga kematian merupakan kejadian yang tidak pernah berhenti di muka bumi. Meski sekelompok manusia dan kelompok lainnya bersepakat dalam sebuah konvensi menjadi konstitusi, kekerasan selalu mengiringi perjalanan sejarah manusia itu sendiri.
Mungkin saya terlalu jauh melamun, dan mendadak sok berfilosofi ketika membaca tragedi kemanusiaan yang terjadi di dua masjid daerah Christchurch, New Zealand (Selandia Baru) pada Jumat, 15/03/2019 yang menewaskan 49 Muslim. Alasan aksi brutal-antikemanusiaan seorang dari empat pelakunya, Brenton Tarrant, ialah "penaklukan" dan "penjajahan" yang rasial-agamawi.
Sebenarnya, bukan hanya karena tragedi itu, melainkan malah setiap tragedi kemanusiaan melalui kekerasan fisik hingga kematian atas nama ras bahkan agama, secara mendadak saya turut merasakan duka yang mendalam. Rasa kemanusiaan saya seakan sedang dipertanyakan berulang-ulang. Sampai kapan akan berhenti, meskipun hukum positif sudah diberlakukan di setiap negara? Entahlah.
Terus terang, mengenai kekerasan fisik, saya baru sampai pada taraf "ancaman" setelah keyakinan iman saya "diserang", bahkan "dikeroyok" oleh dua oknum penggiat kebudayaan di suatu daerah. Seorang di antaranya menjadikan saya sebagai target ancaman kekerasan fisik, dimana saya sendiri tidak pernah melakukan hal yang patut disandingkan atau disetarakan dengan "ancaman" itu.
Dari lubuk hati terdalam saya mengampuni oknum "pengancam" itu kendatipun saya tidak ingin bertemu dengannya lagi karena perbedaan prinsip hidup yang terlalu kontras dalam kehidupan. Apalah saya ini dibandingkan dengan gelar "budayawan"-nya.
Ya, saya selalu menyadari bahwasannya saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah orang biasa yang mendadak berpikir sampai sok berfilosofi. Mungkin beginilah risiko seorang pelamun yang sering suntuk merenungi jejak sekaligus ujung perjalanan hidup fananya yang sering diistilahkan Gereja sebagai "ziarah". Cieeee...
Akar Kekerasan versi Erich Fromm
Buku The Anatomy of Human Destructiveness atau Akar Kekerasan karya Erich Fromm (cet. II, Pustaka Pelajar, 2001), mungkin, bisa menjadi salah satu rujukan (referensi) yang berkaitan langsung dengan "akar kekerasan" secara ilmiah. Buku ini disusun dan ditulis Fromm selama enam tahun sebagai tanggapan terhadap Teori Psikoanalisis-nya Sigmund Freud.
"Saya tidak mampu menulis dengan baik mengenai kedestruktifan manusia jika saya tetap berkutat dalam lingkup keutamaan saya, psikoanalisis," ungkap Fromm dalam cuplikan kata pengantar bukunya.
Akan tetapi, saya tidak ingin membahas buku berukuran kira-kira 16 x 24 x 3,2 cm itu dalam artikel ini. Kapabelitas saya belum mampu mencapai taraf pemikir brilian itu. Saya sekadar menyinggung sedikit supaya seolah-olah saya terlihat "agak" cerdas (smart) menurut generasi kekinian. Sebab, aslinya saya ini pelamun belaka. Boleh dicatat: Pelamun belaka.
Kekerasan terhadap Alam
Dalam pandangan saya sebagai oknum Kristiani, kekerasan yang dilakukan manusia sudah terjadi sejak kisah Adam dan Hawa. Peristiwa "Buah Khuldi" atau "pelanggaran hukum ilahi" menjadi awal munculnya kekerasan itu, khususnya dari manusia terhadap makhluk lain, yaitu tumbuhan.
"Maka terbukalah mata mereka dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat" seperti yang tertulis dalam Kejadian 3:7.