Mohon tunggu...
Fandi Sido
Fandi Sido Mohon Tunggu... swasta/hobi -

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Bumi Memanggil Langit 6

11 Agustus 2011   09:42 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:53 88
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

"Haduh.... Sudah lama saya tidak belanja seperti ini, Makmun. Lupa terakhir kapan..." komentar orang tua itu sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan.

"Bareng Ibu Ustaz, kan?" tebak Makmun.

Pak Ilman tersenyum. Mereka lalu membelah keramaian Pasar Beringharjo. Saat ribuan orang tumpah di satu koridor lurus pasar beratap itu, tak ada cara lebih baik menikmatinya kecuali memuaskan pandangan dan perasaan mencermati semua yang ditawarkan di situ.

Siang itu, kegembiraan lain bergulir di antara mereka.

Sore harinya, tim Anjal SISAN terbaring lemas di teras rumah berlantai marmer.

Makmun datang dari arah luar, membuka sepatunya, lalu menggeleng.

"Mas Makmun, hari ini izin dulu ya ke tambak lele. Mau istirahat," pinta Irwan sambil memohon.

Teman-temannya yang lain tergolek di atas lantai itu. Plastik-plastik bungkusan baju baru mereka jadikan bantalan penyangga kepala. Odi, Zidan, Azikin, dan Ningsih tertidur pulas.

Melihat itu, Makmun tersenyum. "Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti kalian siap-siap tarawih saja."

"Tapi, apa Pak Ustaz tidak marah?" tanya Irwan.

"Tidak kok."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun