Mentari pagi menyapa dengan lembut, menerobos sela-sela dedaunan hijau di hutan. Udara sejuk dan bersih menyapa paru-paru, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru saja terkena embun. Di tengah hutan yang rimbun, berdiri sebuah gubuk kecil terbuat dari kayu dan bambu, dengan asap tipis mengepul dari cerobongnya. Di dalam gubuk itu, seorang pria tua bernama Pak Jaya sedang meracik kopi.
Pak Jaya adalah penjaga hutan, seorang pertapa yang memilih hidup sederhana di tengah rimbunnya pepohonan. Dia hidup dengan alam, mencintai hutan, dan melindungi satwa yang hidup di dalamnya. Setiap pagi, Pak Jaya selalu menyeduh kopi, aroma kopi yang khas menjadi penanda awal hari baginya.
"Kopi pagi, aroma yang menenangkan," gumam Pak Jaya, sambil mencium aroma kopi yang harum. Dia menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir tanah liat, menghirup aroma kopi yang khas, dan menyesapnya perlahan.
Kopi pahit, namun terasa hangat di tenggorokan, seperti pelukan hangat di pagi hari. Pak Jaya menikmati secangkir kopi sambil memandang ke luar gubuk, melihat hijaunya hutan yang terhampar luas. Dia merasakan ketenangan dan kedamaian.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Pak Jaya menoleh ke arah pintu, dan melihat seorang perempuan muda sedang berdiri di ambang pintu. Perempuan itu tampak lelah dan ketakutan.