Lantas, bagaimana kita dapat mengatasi masalah ini? Salah satu solusinya adalah memperketat regulasi terkait proses akademik, khususnya dalam program doktor.
Kampus-kampus elit harus tetap menjaga standar yang tinggi dalam menerima dan meluluskan mahasiswa doktoral, terlepas dari latar belakang ekonomi atau status sosial mereka.
Gelar doktor seharusnya tetap menjadi pencapaian yang memerlukan dedikasi akademik, penelitian yang mendalam, dan kontribusi yang signifikan bagi ilmu pengetahuan.
Selain itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk mendukung prekariat akademik, termasuk dengan menyediakan lebih banyak peluang pendanaan penelitian, memastikan adanya jaminan pekerjaan bagi mereka yang berprestasi di bidang akademik, serta mendorong kerja sama antara universitas dan sektor industri untuk menciptakan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian lulusan S3.
Di sisi lain, transparansi dalam proses pemberian gelar doktor juga sangat penting. Kampus-kampus harus lebih terbuka dalam mengomunikasikan kriteria dan standar yang mereka terapkan dalam program doktoral.
Ini akan membantu mengembalikan kepercayaan publik terhadap integritas pendidikan tinggi di Indonesia dan memastikan bahwa gelar akademik tetap dihargai sebagai simbol intelektual, bukan sekadar alat politik atau sosial.
Kesimpulan: Kembali ke Akar Meritokrasi
Pada akhirnya, tantangan yang dihadapi oleh kelas menengah terdidik di Indonesia mencerminkan pergeseran lebih luas dalam nilai-nilai sosial kita.
Ketika popularitas dan kekayaan mulai membayangi pencapaian intelektual, kita harus bertanya apakah kita masih menghargai meritokrasi sebagai prinsip dasar dalam pendidikan dan masyarakat.
Mungkin bukan salah artis atau politisi jika mereka ingin meningkatkan diri secara akademik, namun sistem pendidikan harus tetap adil dan mempertahankan integritasnya.
Bagi kelas menengah terdidik yang terus memperjuangkan hak mereka atas pendidikan yang adil dan kesempatan yang setara, perjuangan ini adalah panggilan untuk mempertahankan eksklusivitas ruang akademik sebagai tempat di mana usaha dan kerja keras tetap dihargai.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H