Mohon tunggu...
zefaniasafarina
zefaniasafarina Mohon Tunggu... Freelancer - CONTENT CREATOR

saya adalah mahasiswi semester 1 uin sunan ampel surabaya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Apakah Teknologi Ai dan Chat GPT Menggeser Peran Guru?

4 Desember 2024   00:06 Diperbarui: 4 Desember 2024   00:07 24
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Tantangan Pendidikan di Era Teknologi 2024: Peran Guru yang Tergeser oleh Teknologi

Perkembangan teknologi yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di tahun 2024, teknologi telah menjadi pilar utama dalam proses pembelajaran, memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas, cepat, dan efisien. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa peran guru mulai terpinggirkan oleh kehadiran teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI), aplikasi pembelajaran digital, dan platform daring. Fenomena ini menimbulkan tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara teknologi dan peran manusia dalam dunia pendidikan.

Transformasi Pendidikan di Era Teknologi

Teknologi dalam pendidikan telah memberikan manfaat luar biasa, seperti pembelajaran yang lebih interaktif, personalisasi materi, dan aksesibilitas untuk pelajar di berbagai penjuru dunia. Platform pembelajaran daring seperti Learning Management Systems (LMS) dan aplikasi berbasis AI dapat menganalisis kebutuhan siswa secara individual, memberikan materi yang disesuaikan, serta memberikan umpan balik instan.

Namun, dengan semakin canggihnya teknologi ini, beberapa institusi pendidikan mulai mengurangi ketergantungan pada guru manusia. Kelas virtual dan modul pembelajaran otomatis sering dianggap lebih hemat biaya dan efektif. Hal ini memunculkan tren di mana peran guru digeser menjadi fasilitator semata, bukan sebagai sumber utama ilmu pengetahuan.

Tantangan yang Dihadapi Guru

  1. Kemerosotan Interaksi Manusiawi
    Penggunaan teknologi yang berlebihan dalam pendidikan dapat mengurangi interaksi personal antara guru dan siswa. Padahal, hubungan emosional dan komunikasi langsung antara guru dan siswa sangat penting untuk membangun karakter, memberikan motivasi, serta membangun empati.

  2. Ketergantungan pada Teknologi
    Ketergantungan yang tinggi pada teknologi dapat membuat sistem pendidikan menjadi rentan terhadap gangguan teknis, seperti kegagalan perangkat lunak atau masalah koneksi internet. Guru yang tidak dilibatkan secara aktif berisiko kehilangan keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengajar secara langsung.

  3. Pergeseran Peran Guru
    Alih-alih menjadi pendidik utama, guru sering kali hanya menjadi pendukung dalam proses pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini dapat mengurangi otoritas mereka dalam kelas dan mengubah persepsi siswa terhadap peran guru.

  4. Kesetaraan Akses Teknologi
    Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap perangkat teknologi dan internet berkualitas. Guru sering kali menjadi penghubung yang penting untuk menjembatani kesenjangan ini, tetapi peran ini melemah jika guru dikesampingkan.

Solusi untuk Menjaga Keseimbangan

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan strategis yang mengintegrasikan teknologi dengan tetap mempertahankan peran penting guru. Berikut beberapa solusi yang dapat diterapkan:

  1. Pelatihan Guru dalam Teknologi
    Guru harus dilatih untuk memahami dan memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengganti. Dengan demikian, mereka dapat mengintegrasikan teknologi dalam pengajaran mereka tanpa kehilangan esensi kehadiran manusiawi.

  2. Kolaborasi Teknologi dan Pendidikan Tradisional
    Sistem pendidikan harus mengadopsi pendekatan hybrid yang memadukan pembelajaran berbasis teknologi dengan metode tradisional. Guru tetap memegang kendali dalam memberikan pengajaran, sementara teknologi menjadi alat bantu untuk meningkatkan efektivitas.

  3. Fokus pada Pengembangan Karakter
    Guru memiliki peran unik dalam membentuk karakter siswa, yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, kurikulum harus dirancang untuk memberikan ruang lebih bagi guru dalam membangun aspek emosional dan sosial siswa.

  4. Penguatan Regulasi Pendidikan
    Pemerintah dan institusi pendidikan perlu menetapkan regulasi yang melindungi peran guru dalam sistem pendidikan. Teknologi harus dilihat sebagai pelengkap, bukan substitusi bagi tenaga pengajar.

Kesimpulan

Meskipun teknologi membawa dampak positif yang signifikan dalam pendidikan, peran guru tetap tak tergantikan. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi juga pembimbing, motivator, dan pembentuk karakter siswa. Oleh karena itu, di tengah pesatnya perkembangan teknologi di tahun 2024, penting untuk menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Hanya dengan cara ini, kita dapat menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana secara emosional dan sosial.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun