Ironisnya, kembali pada masa bujang, saya adalah seorang petualang sejati, sering melakukan perjalanan sendirian dengan motor japstyle kesayangan atau bergabung dalam touring bersama teman-teman dari klub motor Japstyle Bratstyle Indonesia.
Namun, sejak berkeluarga, sepertinya hobi itu perlahan-lahan mulai terlupakan. Tetapi malam itu, membawa Zavi dalam sebuah petualangan, rasanya seperti memulai sebuah babak baru yang sama menyenangkannya.
Perjalanan ke Jogja terasa luar biasa tenang dan menyenangkan. Melihat Zavi yang tampak gembira, duduk di kursi sambil memandang ke luar jendela dengan mata berbinar, membuat hati kami seakan ikut berlari kegirangan.
Sesekali ia teriak-teriak kecil, seolah ingin mengungkapkan kebahagiaannya, "Abah, Mami, Zavi happy sekali!" Mendengar itu, rasa lelah dan khawatir langsung sirna. Bagaimana mungkin tidak bahagia melihat buah hati menikmati momen-momen kecil seperti ini?
Sekitar satu jam setelah keberangkatan, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat dari mata Zavi yang mulai terpejam. Akhirnya, dengan penuh tenang, ia tertidur di pangkuan ibunya. Saya pun menyandarkan kepala, berusaha untuk mengumpulkan energi yang akan dibutuhkan untuk hari esok, saat kami tiba di tujuan awal, pantai Parang Tritis. Di sanalah, kami akan memulai hari dengan segar, menghirup udara pantai yang asin, sambil melihat ombak datang dan pergi, sebuah simbol petualangan baru yang tak terlupakan bagi Zavi dan kami.
Tiba di parkiran bus Parang Tritis pukul 03.00, keadaan masih gelap dan udara pagi yang sejuk langsung menyapa. Mata saya masih terasa berat dan badan terasa lelah, terutama karena sebelum berangkat tadi malam, saya sempat meluangkan waktu untuk berolahraga di gym. Energi yang tersisa tampaknya harus saya simpan untuk menghadapi hari yang panjang.
Namun, dalam keheningan malam, tempat parkir bus pun masih hanya terlihat rombongan kami saja, tiba-tiba saya mendengar suara kecil dari Zavi yang terbangun. Rupanya, keramaian suara orang-orang yang mulai turun dari bus telah membangunkannya. "Waduh, jam segini sudah sampai," gumam saya dalam hati. "Masa iya subuh-subuh buta gini harus main pantai?" pikir saya sambil melirik jam di ponsel.
Tak lama, koordinator bis kami memberikan pengumuman. "Rombongan akan melaksanakan shalat subuh di parkiran ini yang sudah dilengkapi dengan fasilitas umum, dan kita akan sarapan pagi di salah satu warung di daerah sini," katanya.
Dengan waktu subuh yang masih cukup lama, saya dan istri memutuskan untuk bergantian membersihkan diri dan berwudhu. Istri saya lebih dulu menuju kamar mandi, sementara saya menggendong Zavi, memperkenalkannya pada keindahan langit malam yang terang benderang karena sinar purnama.