Perbandingan terdekat mungkin adalah ketidaksabaran United terhadap Jose Mourinho, namun kejengkelan itu tidak pernah meluas seperti pembangkangan pemain yang terjadi pada The Blues.
Perbandingan antara Mourinho dan Sarri menunjukkan kontradiksi yang menarik dalam sepakbola dimana bagi Mourinho, seburuk apapun bermain yang terpenting yaitu meraih kemenangan sedangkan bagi Sarri gaya bermain lebih penting, terlepas dari apapun hasil akhir yang diperoleh.
Mungkin ada baiknya penggemar Chelsea sedikit bersabar menghadapi "Sarriball" seperti ketika City diasuh oleh Pep Guardiola pada tahun pertamanya di Inggris. Para penggemar sepertinya tidak terpuaskan dengan visi jangka panjang yang dibawa Sarri dan mengharapkan kesuksesan yang instan.
Pertandingan melawan Arsenal pada final Liga Europa di Baku minggu depan menjadi semacam pembuktian untuk "sarriball". Mungkinkah kemenangan dan raihan trofi Liga Europa cukup untuk membuat publik Stamford Bridge beralih mendukung Sarri?
Namun sepertinya dukungan apapun yang diberikan kepada Sarri akan bersifat sementara. Banyak pendukung Chelsea melihat keberadaan Sarri tinggal menunggu waktu hingga Frank Lampard yang menunjukkan kesuksesan bersama Derby datang untuk mengambil alih.
Para penggemar pada akhirnya mungkin akan berterima kasih pada Sarri. Karena apa gunanya bersemangat menyambut manajer baru jika akhirnya berujung pemecatan pada akhir musim.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H