"Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampung dipatenggangkan."
Kalimat di atas, adalah tuturan adat yang menjadi rujukan ideal sebagai tugas, fungsi dan tanggung jawab bagi setiap lelaki berdarah Minang.
Namun, kali ini aku tak akan menyigi dinamika dalam interaksi sosial berkaitan dengan Petuah Minang tersebut. Tapi mencoba mengawinkan tiga filosofi itu, yang mempengaruhi caraku menulis hingga tayang di Kompasiana. Boleh, ya?
3 Timbangan Rasa Menulis di Kompasiana
Pertama. Anak Dipangku
Aku adalah orangtua, dan tulisan adalah anakku. Sebagai orangtua, aku memiliki kewajiban menjaga dan merawat. Serta bertanggungjawab penuh terhadap kendala serta rintangan perjalanan panjang sebuah tulisan, kan?
Agar tak tersesat di jalan yang lurus, Kucoba olah tulisan itu secara hati-hati dan matang. Toh, buat anak tak boleh coba-coba, kan? Maka kupangku dengan timbangan rasa dan logika. Ketika yakin bisa mandiri, baru kulepaskan.
Namun, orangtua bisa saja salah, tah? Semisal senjata AK 47, hingga hari ini, aku sudah melontarkan lebih dari seribu peluru berbentuk tulisan. Ada kemungkinan peluru itu melesat tajam menembus sasaran. Namun banyak juga meleset jauh dari titik harapan yang diinginkan. Hiks...
Kedua. Kamanakan Dibimbiang.
Kompasiana tak hanya rumah bersama yang menayangkan tulisan. Namun menciptakan ruang interaksi yang intens antar Kompasianers. Sebut saja hadirnya puluhan Komunitas menulis serta beragam grup penulis melalui aplikasi media sosial. Salah satunya Whatsapp Grup.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!