"Seru, Bang!"
"Asyik! Bisa lebih akrab."
"Senang! Padahal game-nya, permainan anak-anak!"
"Itu, karena masa kecil kita, gak bahagia!"
Hari sabtu lalu (18/01/2020), tim outbond-ku diajak mengisi acara family ghatering, oleh salah satu Kantor Dinas di Kabupaten Rejang Lebong. Kegiatan itu dilaksanakan satu hari penuh, diisi dengan ragam ice breaking dan aneka permainan.
Ragam komentar di atas, hadir saat kuminta peserta melontarkan refleksi perwakilan peserta usai kegiatan. Dan, celetukan terakhir disambut tawa ratusan orang. Namun, mayoritas mengangguk menyetujui.
Gadis kecilku, yang kuajak pada kegiatan tersebut. Berbisik pelan ke telingaku saat istirahat siang. "Seperti anak kecil, Yah! Padahal sudah tua semua!"
Aih, Anakku belum mengerti. Bahwa pada momen itu. Setiap peserta merasa diri mereka lepas dari jeratan rutinitas di kantor yang bikin jenuh. Atau sesaat bisa melupakan permasalahan yang ada di rumah. Sehingga menjadi pribadi bebas.
Ketika merasa menjadi pribadi yang bebas. Pelan-pelan akan kembali lahir kenangan atau angan yang dulu tertunda. Termasuk keinginan mengalami lagi pengalaman dan angan semasa kecil, yang tak mungkin dilakukan di tempat kerja.
Apalagi jika situasi dan kondisi mendukung. Maka kredo yang jamak terdengar, akan berlaku. Bahwa jika sekumpulan orang dewasa berkumpul, maka mereka berubah menjadi sekumpulan anak kecil. Pernah alami itu?
Namun tak semua orang bisa begitu! Ada orang yang mampu total bermain dan mengekspresikan diri. Dan ada saja orang yang kaku, tetap menjaga sikap dan berlaku pasif. Seakan, kegiatan tersebut tak lagi layak bagi orang dewasa dan kekanak-kanakan.
Seseorang dikatakan dewasa adalah mereka yang menerima masa lalu. Memahami kebutuhan inner child serta memenuhinya tanpa tergantung orang lain.
Kenapa bisa begitu?
Setiap orang dewasa, seperti dilansir situs maxima.id memiliki Inner Child dalam dirinya. Di ranah psikologi, Inner Child merupakan pengalaman masa kecil yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian yang baik. Tanpa sadar, hal itu melahirkan gangguan trauma yang terpendam.
Karena Inner Child merupakan bagian dari alam bawah sadar, terkadang motivasi itu tetiba hadir dalam bentuk perilaku atau emosi yang tak disadari. Akhirnya bermasalah dengan tingkah laku, emosi yang tidak stabil atau saat melakukan interaksi sosial.
Bayangkan jika orangtua belum mampu menerima atau berdamai dengan inner child-nya? Kukira hal itu akan berpengaruh pada pola asuh bagi anak-anaknya.
Bukan rahasia lagi, bahwa orangtua akan merefleksikan pola asuh yang dulu pernah dijalaninya. Jika mereka anggap baik, maka pola yang sama akan dilakukan pada anaknya. Namun jika mereka anggap salah, orangtua akan mencari patron pola asuh yang baru. Dengan harapan, anak mereka tak alami hal negatif, yang dulu pernah dialami orangtuanya.
Dari berbagai literasi, setidaknya ada 4 jenis pola asuh yang dikenal.
Pertama, Pola Asuh Demokrasi
Orangtua mendorong anak untuk bebas, tapi memberikan batasan dan mengendalikan tindakan mereka. Kepentingan anak di atas kepentingan orangtua. Sehingga orangtua menerima anak dengan sepenuh hati.
Akhirnya, anak akan tumbuh mandiri, bisa tegas terhadap diri sendiri, memiliki kemampuan mengendalikan diri dan instropeksi, mampu bekerja sama dan mudah bergaul serta ramah dengan orang lain.
Kedua, Pola Asuh Pemanja (Permisif)
Orangtua tidak mengendalikan perilaku sesuai perkembangan kepribadian anak. Tak berniat mengatur atau bahkan tak berani menegur. Meski perbuatan di luar kewajaran.
Cenderung membiarkan anak menemukan sendiri jati dirinya. Risikonya? Jika anak tersebut mendapat lingkungan yang bagus, anak-anak akan tumbuh dengan baik. Begitu juga bila sebaliknya. Ketika anak tumbuh di lingkungan sosial yang buruk, maka anak akan mudah terimbas prilaku negatif.
Ketiga, Pola Asuh Otoriter
Orangtua membatasi perilaku anak, bersikap menghukum atas nama disiplin. Anak mesti ikuti petunjuk orangtua, haru menghormati dan membuat batasan juga kendali yang tegas terhadap anak. Namun, sedikit melakukan komunikasi verbal.
Pola ini positif? Bisa jadi! Coba lihat keluarga militer. Mulai dari kakek, ayah, anak hingga cucu dan seterusnya. Namun, ada juga yang mengalami trauma dan tak ingin sang anak mengikuti jejaknya, kan? Â
Keempat, Pola Asuh Penelantar
Ada orangtua yang menelantarkan anak secara fisik atau nutrisi juga psikis. Biasanya, lebih mendahulukan kepentingan diri dari pada kepentingan anak. Acapkali ini terjadi pada orangtua yang memiliki karir mapan dan super sibuk. Hingga lebih mempercayakan anak kepada orang lain.
Atau malah orangtua yang lemah secara ekonomi. Sehingga tenaga dan pikiran dalam keseharian, habis untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga yang tak pernah tercukupi.
Bisa dibayangkan lagi, jika orangtua memiliki trauma di masa kecil, kemudian ternyata keliru menerapkan pola asuh pada anaknya?
Apa yang Bisa Dilakukan?
Aku tadi membaca di linimasa seorang teman. Yang miris, ketika menyimak kasus bunuh diri Siswi SMP di Jakarta yang meloncat dari lantai 4 sekolahnya. Diduga karena perundungan (bullying). Apakah semata karena perundungan?
Jejangan karena orangtua "tidak hadir" dalam kehidupan anak. Bisanya hanya menuntut anak melakukan yang mereka inginkan, diikuti semua kemauan anak, yang penting meraih nilai tinggi.
Hingga anak tumbuh dalam kondisi tertekan, mudah stres, gampang menyerah. Sering mengeluh dan menjadi generasi instan. Jadi, ketika bertemu masalah, mencari solusi yang paling mudah dan sederhana. Bunuh diri!
Mungkin saja orangtua terlupa membekali anak untuk melakukan kontrol terhadap diri sendiri (Self control). Semisal membedakan mana benar dan salah, mengajari ketahanan dan pertahanan diri, serta memiliki mental  dan daya juang yang kuat.
Orangtua harus hadir, mendengarkan anak dengan hati dan menjadi teladan. Didik mereka. Jika tidak, maka teknologi yang mendidik mereka. Hingga menjadikan mereka seperti Artificial Intelligence (AI) yang tanpa emosi, empati dan daya juang. Novita Tandry, Psikolog Anak dan Remaja.
Demikian, happy parenting!
Curup, 22.01.2020
Zaldychan
[Ditulis untuk Kompasiana]
Taman Baca : https://maxima.id/inner-child-seberapa-penting-sih/
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI