Terdengar sayup-sayup dari ruang tengah, seorang lelaki tua bercerita kepada keponakanku.
"Simbah uti selalu ngaji, Na..", kata bapakku.Â
"Menghafalkan Al Quran juga..", lanjutnya.
Nani yang asyik menonton televisi menyahut.
"Simbah baik ya, mbah..", kata Nani.
"Iya... Selain itu, simbah sering membuat kerajinan tangan.. Dulu membuat anyaman dari rotan.. Terus mengukir kayu juga..", sayup-sayup masih terdengar suara bapak.
***
Tadi sepulang kerja, aku disambut ponakanku di depan pintu.
"Bulik...", sambut keponakanku.
"Kata mbah kakung, mbah uti punya anak. Anak itu kakaknya bulik.. Apa benar?", cerocos Nani.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Iya..", jawabku singkat.Â
"Lalu katanya meninggal pas masih bayi..", ceritanya lagi. Aku mengiyakan cerita itu.Â
***
Bapak memang sudah tua. Semenjak tidak ada ibu, bapak selalu mandiri. Masak, mencuci, menyapu, dan sebagainya.
Mungkin hanya minta tolong ketika mau bepergian. Dan juga ketika masuk angin, minta dikeroki.
Pernah suatu saat aku ikut bapak jajan bersama kakak dan keponakan-keponakanku.Â
"Istri saya sudah meninggal..", cerita bapak saat itu. Sepertinya bapak mengenal ibu penjual yang diajak bercerita.
"Mboten nikah lagi, pak?", tanya ibu-ibu penjual.
"Ora.. Gur gari ngopeni awake dhewe..", terharu aku mendengar jawaban itu.
Bapak memang selalu mencintai ibu. Tidak ada niat sedikitpun untuk menikah lagi. Setia.Â
Semoga saja ibu, bapak, kakak-kakak dan keluarga serta aku dan keluarga kecilku serta keluarga besar dikumpulkan di surgaNya kelak.Â
Allahumma Aamiin.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI