Aku menjelaskan ulang, yang dilakukan kali ini adalah latihan berpuasa sunah. Latihan prihatin. Tidak harus dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Akhirnya keponakanku itu menerima penjelasanku meski masih bersungut-sungut. Hehe.
Dan ini terulang di hari lain. Lagi-lagi keponakanku marah-marah dan nangis. Pertanyaan yang sama selalu dilontarkan. Kenapa tidak dibangunkan untuk sahur. Apakah aku kesiangan karena tidak bisa tidur. Dan seterusnya.
Apakah aku senang dengan keadaan seperti ini? Ya, berarti keponakanku sudah mulai terbiasa dengan puasa sunah. Untuk anak seusia dia, ini sesuatu yang luar biasa. Orang dewasa saja belum tentu melaksanakan puasa sunah ini lho.
Bagiku ini penanaman karakter yang lumayan berhasil. Bagaimana dia bisa mengerem makan. Belajar untuk prihatin, merasakan orang yang tidak bisa makan karena keterbatasan rezeki.
Selain itu akan membuat tubuh menjadi sehat. Karena banyak yang mengatakan, dengan berpuasa maka tubuh akan menjadi sehat. Lambung akan beristirahat ketika tidak ada makanan yang masuk.
Dan sebelum tidur pada Minggu malam tadi, keponakanku sudah berpesan kepadaku.Â
"Bangunkan aku ya, bulik. Aku mau berpuasa besok".
Dan tadi pukul kurang lebih 03.45 aku bangunkan dia untuk sahur bersamaku. Selamat berpuasa keponakanku. Sampai berbuka nanti Maghrib.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H