Sebagai contoh, sang laki-laki tiba-tiba menelepon sang wanita di pagi hari dengan maksud mengecek apakah dia sudah bangun atau belum. Sang wanita yang sebenarnya merasa tidak nyaman menerima telepon pagi hari, sulit untuk mengatakan perasaannya, malah, ia berterimakasih karena sudah ditelepon karena menjaga perasaan sang lelaki dan takut membuatnya tersinggung.
2. Tahap Pertukaran Eksplorasi Afeksi
Pada tahap ini, mulai terjadi pertukaran informasi yang lebih banyak antarkedua belah pihak. Informasi yang semula masih dalam ranah pribadi mulai dimunculkan. Kedua pihak juga mulai memunculkan kepribadiannya kepada orang lain, yang semula masih jaim mulai menunjukkan sifat aslinya walau belum sepenuhnya.Â
Komunikasi juga berlangsung sedikit lebih spontan karena sudah mulai merasa santai satu sama lain. Dalam berinteraksi, mereka sudah mulai menggunakan sentuhan dan ekspresi wajah lebih sering. Tahap ini juga penentu apakah suatu hubungan berpotensi untuk lanjut atau tidak. Tidak sedikit pula hubungan yang tidak berlanjut setelah tahap ini.
3. Tahap Pertukaran Afektif
Hubungan kedekatan pada tahap ini menjadi semakin intim. Komitmen yang lebih besar dari kedua pihak, perasaan lebih nyaman, kritis, serta evaluatif yang lebih dalam. Kedua pihak mulai memahami isyarat nonverbal satu sama lain, seperti anggukan berarti iya, tersenyum berarti paham, atau bentuk tatapan mata untuk menggantikan "nanti kita bicarakan nanti".Â
Panggilan khusus seperti "sayang" mulai digunakan pada tahap ini. Namun, pada tahap ini kedua pihak mulai berani saling kritik, berbeda pendapat, bahkan rentang bertengkar untuk memunculkan kemunduran pada suatu hubungan. Hal itu dikarenakan mereka sudah merasa bebas untuk mengekspresikan pendapat mereka.
4. Tahap Pertukaran Stabil
Tahapan ini merupakan tahap paling tinggi dalam hubungan. Kedua belah pihak sudah saling terbuka atas pikiran, perasaan, dan saling bersikap spontan. Mereka sering melakukan perilaku-perilaku tertentu secara berulang. Kesalahpahaman jarang terjadi pada tahap ini karena mereka punya banyak kesempatan melakukan klarifikasi atas ambiguitas pesan. Mereka berada pada intimasi yang tinggi.
Tahapan-tahapan yang telah disebutkan tadi tidak selalu secara utuh menggambarkan tahapan-tahapan sebuah hubungan. Terdapat hal-hal lain yang juga mempengaruhinya seperti lingkungan, latar belakang masing-masing pihak, dan nilai-nilai. Penetrasi sosial ini, merupakan mekanisme pengalaman memberi-dan-menerima dimana pasangan bekerja agar hubungan yang dijalin seimbang antara kebutuhan individu yang terlibat.
Sebuah hubungan dikatakan berhasil apabila memiliki kemajuan dari yang tidak intim menjadi intim dan puncaknya adalah pembukaan diri atau self-disclosure. Self-disclosure atau pembukaan diri merupakan inti dari perkembangan hubungan. Ini menjadi pertanda bahwa hubungan telah mencapai tahap yang lebih intim.Â