"Hemmm ... boleh." Akhirnya aku pun menutup telepon sebelum Mas Tresno bicara yang lain lagi.
Suara gedoran pintu semakin kencang. Aku paham itu suara Mas Tejo. Kulirik jam di ponsel, ternyata sudah jam 8 malam. Ya, ampun bagaimana ini? Tubuhku rasanya kurang enak.
"Iya, sebentar." Dengan hati-hati aku membuka pintu kamar.
"Apa ini? Kamu belum siap? Jam berapa sekarang?" cerocos Mas Tejo. Ternyata dia menunggu di depan kamarku bersama Pak Tohir.
"Aku sakit, Mas. Rasanya meriang."
"Jangan bohong!" Mas Tejo hampir saja menamparku. Akan tetapi, Pak Tohir mencegahnya.
"Kamu beneran sakit, Yati?" Suara Pak Tohir seperti dibuat selembut mungkin. Aku jadi muak. Rasanya ingin muntah saja di sini.
Aku mengangguk pelan. Pak Tohir menghela napas panjang. Tampaknya ada amarah yang berusaha diredam.
"Ya, sudah kamu istirahat dulu malam ini. Untuk kamu Tejo, jangan seenaknya saja melukai dan memukul Yati. Selamat istirahat, Yati."
Pak Tohir memberi isyarat kepada Mas Tejo untuk segera meninggalkanku. Akhirnya kali ini aku bisa lolos dari mereka berdua. Entah besok-besok aku bisa lolos atau tidak. Ini semua demi bisa bertemu dengan Aisyah.
***
Pagi ini terasa cerah. Tubuhku pun sudah terasa segar. Setelah semalam berpikir keras, aku merasa perlu mencari kerja di sini. Uangku semakin menipis, padahal aku sudah berhemat semampuku. Kuputuskan pergi ke warung Mas Tresno. Mana tahu dia butuh karyawan atau setidaknya dia bisa membantuku untuk cari pekerjaan.
Jam masih menuju ke angka 8. Suasana indekos masih sepi sekali. Ini kesempatan untuk cepat keluar indekos. Tak ada orang yang mengetahui. Alhamdulillah akhirnya aku bisa melewati gerbang indekos tanda halangan. Rasanya seperti kabur dari penjara saja.
Sampai di depan warung Mas Tresno tampak sepi dan masih tutup. Mungkin nanti agak siang baru dibuka. Dengan mantap aku ketuk rumahnya yang berada tepat di samping warung. Tak perlu menunggu lama, Mas Tresno pun muncul dari dalam.